Cari Di Sini!

Hukum Shalat Tahajjud Tanpa Witir PDF Print E-mail
Konsultasi Umum (Fiqh)
Wednesday, 12 October 2016 02:01

 

1-

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustad, saya mau bertanya tentang hukum melaksanakan shalat Tahajjud tanpa melakukan shalat Witir sama sekali, baik itu di awal malam (selepas shalat Isya) maupun di akhir shalat Tahajjud, apakah sah shalat Tahajjud yang dilakukan tersebut? Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Y-….

 

2-

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya ingin bertanya mengenai shalat Istikharah dan shalat Tahajjud. Bolehkah kita melakukan shalat Istikharah setelah Tahajjud? Jika kita melakukan shalat Witir setelah shalat Tahajjud, bolehkah disambung lagi dengan shalat Istikharah? Ataukah sebaiknya shalat Witirnya dilakukan setelah shalat Istikharah saja? Dan bolehkah shalat Istikharah dilakukan setiap hari?

Terima kasih, Ustadz. Mohon dijawab...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

A-….

 

Jawaban:

 

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Untuk Saudari Y yang saya hormati, shalat Witir dan shalat Tahajjud merupakan dua shalat yang hukumnya sunah, artinya bila dilakukan akan mendatangkan pahala, tetapi bila ditinggalkan tidak apa-apa. Keduanya adalah dua ibadah yang terpisah, bisa dilakukan secara terpisah, dan tidak ada “keharusan” untuk dikerjakan dalam satu paket. Anda boleh saja melakukan Tahajjud tanpa Witir, dan demikian pula sebaliknya.

 

Sama seperti pertanyaan yang disampaikan dalam konsultasi berjudul “Haruskah Witir Dilakukan Setelah Tahajjud?”, pertanyaan Anda sepertinya muncul karena adanya hadits yang mengisyaratkan bahwa shalat Witir adalah penutup shalat malam (termasuk Tahajjud). Dalam konsultasi tersebut, saya sudah menjelaskan bahwa ungkapan “Shalat Witir adalah penutup shalat malam” tidak sepenuhnya benar. Sebab, ketika dikatakan sebagai penutup shalat malam, maka hal ini akan menimbulkan kesan bahwa seseorang tidak boleh melakukan Witir setelah shalat Tarawih/Isya bila dia ingin melakukan shalat Tahajud di akhir malam, atau bila seseorang tidak menutup shalat Tahajud dengan Witir maka shalat Tahajudnya tidak sah. Atau dengan ungkapan yang lebih singkat, melakukan shalat Witir di akhir semua shalat malam (termasuk Tahajud) adalah sebuah keharusan. Istilah seperti itu muncul karena adanya sebuah Hadits yang berbunyi: “Jadikanlah Witir sebagai akhir shalat kalian di waktu malam" (HR. Bukhari)

Baca Selengkapnya
 
Sudah Talak Berapakah Saya? PDF Print E-mail
Konsultasi Keluarga
Monday, 03 October 2016 01:18

 

Sudah Ditalak Berapakah Saya?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya mau bertanya, dulu suami sering sekali mengatakan kalimat "pisah" baik secara lisan maupun tulisan. Di bulan Juni dan Agustus pun mengatakannya kembali. Berdasarkan situs ini kami (suami dan saya) baru tahu ternyata sudah jatuh talak jika mengucapkan kalimat "pisah".

 

Yang ingin saya tanyakan, jika demikian maka sudah ditalak berapa kali kah saya oleh suami? Apakah jika ingin rujuk perlu ada kalimat penegasan dari suami untuk membatalkan talak yang sudah terucap? Terimakasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

A -...

 

Jawaban:

 

Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

Saudariku yang saya hormati, saya berharap Anda sudah benar-benar memahami pendapat yang saya lontarkan pada konsultasi-konsultasi sebelumnya yang serupa, yaitu konsultasi berjudul Suami Mengucapkan Kata "Pisah" dan juga Bila Suami Mengatakan "Pisah", Apakah Jatuh Talak?. Tentunya dengan harapan agar arah pertanyaan Anda sudah sejalan dengan pendapat yang saya sampaikan. Dalam artian, kata "pisah" yang Anda anggap telah menyebabkan jatuhnya talak di antara Anda dengan suami merupakan perkataan yang benar-benar dibarengi niat talak.

 

Bila memang sudah seperti yang saya jelaskan dalam kedua konsultasi tersebut, maka mengenai jumlah talak yang sudah jatuh, Anda dan suami yang lebih mengetahui. Apalagi dalam pertanyaan di atas, Anda mengatakan bahwa hal itu sering terjadi.

 

Kasus yang Anda alami merupakan kasus yang masih sering terjadi di kalangan masyarakat kita. Hal itu bisa disebabkan karena faktor ketidaktahuan akan hukum-hukum seputar pernikahan dan talak atau karena menganggap sepele hukum-hukum tersebut. Padahal Islam sangat menekankan agar kita lebih berhati-hati, terutama dalam mengucapkan atau memutuskan perceraian. Baca konsultasi berjudul Cerai Dalam Keadaan Emosi.

 

Semestinya suami tidak mudah mengucapkan kata “talak” atau kata-kata yang mengarah ke talak. Demikian pula dengan isteri, semestinya tidak mengucapkan kata-kata yang menyebabkan suami terpancing untuk mengucapkan talak.  Masalah dalam keluarga adalah sesuatu yang lumrah terjadi, apalagi setelah pasangan suami-isteri melewati masa-masa bulan madu. Namun satu hal yang harus diperhatikan adalah pengendalian emosi. Pasangan suami-isteri, siapapun mereka, harus bisa mengendalikan emosi. Bila terjadi masalah, sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin hingga masing-masing pihak bisa berfikir secara jernih mengenai sisi positif dan negatif dari sikap yang akan diambil. Bila perlu, gunakan seorang hakam (penengah) dari pihak suami dan hakam dari pihak isteri guna mencari solusi terbaik, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah swt.:

Baca Selengkapnya