Cari Di Sini!

Alumni Al-Azhar Sebagai Agen Perubahan PDF Print E-mail
Hikmah

 

Universitas Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan Islam terkemuka di dunia telah meluluskan ribuan mahasiswa setiap tahun, termasuk mahasiswa Indonesia yang mayoritasnya merupakan jebolan berbagai fakultas agama seperti Ushuludin, Syariah, Lughah, Dirasah Islamiyah dan Dakwah. Tak kurang ratusan mahasiswa Indonesia berhasil menyelesaikan studinya di universitas Al-Azhar, baik untuk jenjang S1, S2 maupun S3.

 

 

Setamat kuliah, mayoritas mereka memilih pulang ke Indonesia. Di tanah air, kiprah mereka tidak hanya terfokus di dunia pendidikan Islam seperti pesantren atau universitas Islam, tetapi tersebar di berbagai bidang pekerjaan. Selain di Kemenag, banyak juga yang meniti karir di instansi-instansi lain seperti Kemenlu sebagai diplomat, Kemenhumkam sebagai hakim agama, BIN sebagai intelejen dan lain-lain. Ada pula yang menekuni dunia bisnis, bahkan ada yang sukses di dunia politik dan terpilih sebagai gubernur, walikota dan anggota dewan. Tentunya ini sebuah kemajuan dan prestasi yang patut dibanggakan, karena ternyata peluang karir di berbagai bidang terbuka lebar bagi alumni Al-Azhar yang dulunya hanya berkutat dengan buku-buku agama Islam.

 

Namun dengan basic keilmuan agama yang dimiliki, alumni Al-Azhar memiliki beban moral untuk turut serta dalam mengatasi problematika umat Islam, tentunya sesuai kemampuan dan kesempatan yang dimiliki. Mereka diharapkan dapat mengemban "misi suci" kenabian, yaitu dakwah Islamiyah. Perlu digarisbawahi, sesuai situasi dan kondisi sekarang, dakwah Islamiyah tidak hanya terbatas pada upaya mengajak non-muslim untuk masuk Islam, atau hanya sekedar menyampaikan ilmu-ilmu agama saja, tetapi juga mencakup upaya membina umat Islam demi tercapainya perubahan ke arah yang lebih baik.

 

Dengan kata lain, alumni al-Azhar diharapkan dapat menjadi "agen perubahan" bagi umat Islam yang saat ini berada dalam keadaan sangat terpuruk, baik dari sisi politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya. Fakta menunjukkan bahwa umat Islam sedang berada di ambang kehancuran. Walaupun dari segi kuantitas masih bisa dibanggakan, tapi dari segi kualitas sangat memprihatikan, seperti buih di atas air. Di Indonesia sendiri, walaupun mayoritas, umat Islam sama sekali tidak memiliki kekuatan yang patut dibanggakan. Inilah yang menyebabkan kepentingan-kepentingan mereka seringkali termarginalkan, bahkan terabaikan.

 

Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa kondisi umat Islam saat ini, baik di Indonesia maupun dunia, benar-benar seperti yang digambarkan Nabi: “Nyaris orang orang kafir menyerbu kalian, seperti halnya orang-orang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena jumlah kami saat itu sedikit?” Nabi menjawab, “Bahkan kalian saat itu banyak sekali, tetapi seperti buih di atas air."(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Baihaqi)

 

Beberapa fenomena lain turut memperburuk kondisi umat Islam di Indonesia. Dekadensi moral semakin tinggi, peredaran miras dan narkoba semakin bebas, perzinaan semakin merajalela, tawuran dan tindak kekerasan semakin sering dijumpai, korupsi dan kolusi semakin membudaya, serta masih banyak lagi fenomena memprihatinkan lainnya yang semakin tidak asing lagi baik di penglihatan ataupun pendengaran kita.

 

Untuk ikut andil dalam mengatasi problematika umat Islam tersebut, seorang alumni Al-Azhar tidak harus menjadi ustadz, kyai, guru, atau dosen. Sebab andil seperti itu bisa diberikan oleh setiap alumni Al-Azhar dengan berbagai latar belakang profesi yang ditekuni. Yang terpenting adalah bagaimana dia bisa memberikan pengaruh positif terhadap orang-orang di sekitarnya, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun tempat bekerja.

 

Seorang alumni Al-Azhar yang bekerja di instansi pemerintah, misalnya, semestinya dapat memberikan pengaruh positif di lingkungan kerjanya seperti dengan menunjukkan kinerja yang bagus dan bersih. Dia harus bisa mempengaruhi dan bukan malah dipengaruhi. Dia juga harus bisa menjadi panutan bagi rekan-rekan kerjanya. Apalagi bagi mereka yang diamanahi jabatan strategis seperti walikota, gubernur atau anggota dewan, pengaruh positif itu bisa mereka berikan melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Orientasi utama mereka haruslah memberikan pengabdian terbaik untuk umat Islam, bukan orientasi duniawi yang seringkali mendorong mereka untuk mengeruk pundi-pundi kekayaan dengan menghalalkan segala cara seperti dengan mengejar "proyek".

 

Bila hal ini diperhatikan dan diamalkan oleh semua alumni Al-Azhar, maka Insya Allah citra mereka akan semakin harum, di samping juga berbagai problematika umat Islam berangsur-angsur akan dapat teratasi, apalagi mengingat jumlah alumni Al-Azhar terus bertambah setiap tahun dan kondisi mereka tersebar di berbagai wilayah dan berbagai profesi. Sangat disayangkan bila keilmuan agama yang selama ini dipelajari, hanya menjadi pohon yang buahnya tidak bisa dirasakan oleh umat Islam, apalagi bila tidak berbuah sama sekali. Wallahu A'lam...Fatkhurozi