Sebuah Dilema: Ibu atau Suami?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, ada sepasang suami isteri yang awalnya begitu bahagia, meskipun suami belum memiliki pekerjaan yang mapan. Melihat kondisi pekerjaan suami yang masih serabutan, sang isteri terus menyemangati suaminya agar lebih giat dalam mencari nafkah. Namun akhir-akhir ini kebahagiaan sepasang suami isteri itu mulai pudar akibat campur tangan orangtua si isteri yang kebetulan secara materi lebih mapan.

 

Awalnya orangtua isteri begitu prihatin melihat kondisi kehidupan anak dan menantunya yang tergolong belum mapan dan masih sering kekurangan, sehingga setiap bulan dia masih memberikan subsidi kepada keduanya. Namun saat ada masalah antara suami isteri tersebut, orangtua si isteri membela anaknya dan mengungkit-ungkit semua pemberian (subsidi) yang selama ini dia berikan, padahal sebenarnya masalahnya tidak terlalu besar dan bisa diselesaikan dengan baik. Sekarang orangtua isteri sudah membenci menantunya sendiri karena –menurutnya- menantunya itu tidak bisa apa-apa dan hanya bisa numpang hidup kepadanya. Dia pun selalu menjelek-jelekkan menantunya di depan anaknya sendiri. Karena sikap orangtua si isteri itulah, sang suami jadi tersinggung dan merasa dihina.

 

Pak Ustadz, sekarang si isteri sedang dalam dilema, apakah dia harus berada pada pihak orangtua (ibu)nya ataukah suaminya? Setiap malam, dia selalu menangis karena bingung memikirkan apa yang harus dia lakukan. Bila membela sang ibu, dia khawatir dicap durhaka kepada suami, demikian pula sebaliknya. Menurut Ustadz, bagaimana sebaiknya sikap si isteri?? Terima kasih Ustadz.

Baca Selengkapnya Sebuah Dilema: Ibu atau Suami?

Suami Menuduh Istrinya Pelacur

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz, keponakan saya ada masalah dengan rumah tangganya. Saat ini dalam situasi yang perlu mendapat pandangan agar dapat diselesaikan dengan jalan yang baik dan benar, terutama menurut agama. Mereka menikah 2 tahun yang lalu. Setengah tahun usia pernikahan itu, mereka menghadapi goncangan karena suami tidak dapat mengendalikan perkataannya yang mengatakan istrinya "Pelacur" saat ada perselisihan kecil. Bahkan saat istrinya mengandung pernah melontarkan perkataan bahwa "Janin yang dikandung itu mungkin bukan anaknya". Menurut cerita, kata-kata tersebut sangat menyakitkan hati keponakan saya, sehingga hampir setiap hari ada perselisihan dan pertengkaran.

 

Pada puncaknya orang tua terlibat dalam masalah tersebut. Di hadapan Orang Tua Wanita, sang suami mengatakan bahwa dirinya menceraikan istrinya. Saat itu istrinya sedang hamil. Mereka pisah rumah, dan sepakat akan menyelesaikan secara hukum dan agama setelah kelahiran anaknya. Suami tidak lagi membiayai istrinya, bahkan biaya kelahiran anaknya dan semua biaya sampai saat ini dipikul oleh istri dan orang tuanya. Setelah kelahiran anaknya suami tidak pernah memberikan nafkah lahir dan bathin. Tapi dia tidak mau melanjutkan proses perceraian. Bahkan pernah mengancam akan membanting bayinya atau membawa lari. Hal itu tentu sangat menyusahkan dan membuat ketakutan istrinya dan keluarga lainnya. Suami baru mau melanjutkan proses perceraian jika diberi ganti rugi dalam bentuk materi dan uang. Katanya aturan itu ada dalam agama, sebab yang minta cerai pihak wanita.

Baca Selengkapnya Suami Menuduh Istrinya Pelacur

Menunda Pernikahan Karena Masih Kuliah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya mempunyai seorang teman laki-laki. Kami tidak berpacaran karena kami tahu bahwa tidak ada pacaran dalam Islam. Kami sudah saling mengenal sekitar 1 tahun yang lalu. Alhamdulillah saya sudah bekerja. Dia juga sudah bekerja tapi sambil kuliah. Memang kami merasa bahwa kami sudah wajib menikah. Namun, kami menundanya karena menunggu hingga dia lulus kuliah. Pertanyaannya, apakah alasan seperti itu bisa menjadi alasan yang kuat untuk menunda pernikahan? Dan apa saja yang harus disiapkan jika kami ingin menikah? Mohon penjelasannya. Terima kasih….

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

A- ….


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudariku yang terhormat, sebelum menjawab pertanyaan Anda, terlebih dahulu saya akan menjelaskan tentang hukum pernikahan. Sebab, hukum pernikahan sangat tergantung pada kondisi masing-masing orang. Bisa wajib, bisa sunah, bisa mubah, bisa makruh, bahkan bisa haram. Semua tergantung pada kemampuan seseorang untuk menikah dan juga kemampuannya dalam mengendalikan nafsu syahwatnya. Berikut adalah hukum-hukum pernikahan:

 

1. Sunah: Pernikahan disunahkan bagi orang yang sudah memiliki baa’ah (kemampuan untuk menikah) sementara dirinya masih mampu mengendalikan nafsu syahwatnya dan tidak khawatir terjerumus ke dalam perbuatan zina.

 

2. Wajib: Hukum pernikahan menjadi wajb bila seseorang sudah memiliki kemampuan sementara dirinya khawatir tidak mampu lagi mengendalikan nafsu syahwatnya. Dalam kondisi seperti ini, hukum pernikahan berubah menjadi wajib karena perbuatan zina adalah perbuatan yang jelas-jelas diharamkan Allah swt. dan termasuk dosa besar. Bila perbuatan yang haram (zina) sudah tidak dapat dihindari kecuali dengan pernikahan, maka pernikahan menjadi wajib hukumnya.

Baca Selengkapnya Menunda Pernikahan Karena Masih Kuliah