Sudah Ditalak Berapakah Saya?

Sudah Ditalak Berapakah Saya?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya mau bertanya, dulu suami sering sekali mengatakan kalimat "pisah" baik secara lisan maupun tulisan. Di bulan Juni dan Agustus pun mengatakannya kembali. Berdasarkan situs ini kami (suami dan saya) baru tahu ternyata sudah jatuh talak jika mengucapkan kalimat "pisah".

Yang ingin saya tanyakan, jika demikian maka sudah ditalak berapa kali kah saya oleh suami? Apakah jika ingin rujuk perlu ada kalimat penegasan dari suami untuk membatalkan talak yang sudah terucap? Terimakasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

A -...

 

Jawaban:

 

Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

Saudariku yang saya hormati, saya berharap Anda sudah benar-benar memahami pendapat yang saya lontarkan pada konsultasi-konsultasi sebelumnya yang serupa, yaitu konsultasi berjudul Suami Mengucapkan Kata "Pisah" dan juga Bila Suami Mengatakan "Pisah", Apakah Jatuh Talak?. Tentunya dengan harapan agar arah pertanyaan Anda sudah sejalan dengan pendapat yang saya sampaikan. Dalam artian, kata "pisah" yang Anda anggap telah menyebabkan jatuhnya talak di antara Anda dengan suami merupakan perkataan yang benar-benar dibarengi niat talak.

Bila memang sudah seperti yang saya jelaskan dalam kedua konsultasi tersebut, maka mengenai jumlah talak yang sudah jatuh, Anda dan suami yang lebih mengetahui. Apalagi dalam pertanyaan di atas, Anda mengatakan bahwa hal itu sering terjadi.

Kasus yang Anda alami merupakan kasus yang masih sering terjadi di kalangan masyarakat kita. Hal itu bisa disebabkan karena faktor ketidaktahuan akan hukum-hukum seputar pernikahan dan talak atau karena menganggap sepele hukum-hukum tersebut. Padahal Islam sangat menekankan agar kita lebih berhati-hati, terutama dalam mengucapkan atau memutuskan perceraian. Baca konsultasi berjudul Cerai Dalam Keadaan Emosi. 

Baca Selengkapnya Sudah Ditalak Berapakah Saya?

Rumah Tanggaku Pernah Berantakan Gara-gara Ibu Mertua

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya mohon penjelasan dari Ustadz tentang masalah yang sedang saya hadapi, tentunya penjelasan menurut syariat Islam yang disertai dalil-dalil Al-Qur`an dan Hadits. Hal itu dimaksudkan agar saya bisa menyampaikannya kepada suami saya. Syukran katsiran atas bantuannya. Ibu mertua saya tinggal bersama keluarga kecil saya. Sebetulnya hal itu tidak jadi masalah bagi saya, malah saya merasa senang karena –kebetulan- kedua orangtua saya sudah tiada. Ibu mertua saya masih punya suami (bapak mertua saya). Kata ibu mertua, bapak mertua tidak usah ikut tinggal bersama kami, alias tinggal di kampung saja. Maaf, ibu mertua saya sikapnya memang selalu meremehkan suaminya (bapak mertua saya). Sedangkan suami saya, otaknya seperti sudah dicuci oleh ibunya. Dia selalu menuruti kemauan ibunya. Di matanya, perkataan ibunya selalu benar.

 

Sebetulnya saya juga agak risih jika tinggal bersama ibu mertua saya, karena dia pernah menghancurkan mahligai pernikahan kami hingga dua kali. Dia pernah memerintahkan suami saya untuk selingkuh dan melakukan tindak kekerasan kepada saya. Ini adalah kali kedua kami rujuk (bersatu kembali). Semua kami lakukan semata-mata demi anak kami. Setahu saya, jika jarang bertemu dengan ibunya, suami saya termasuk orang yang baik. Apalagi dia sering berteman dengan orang-orang yang shaleh. Tapi jika sudah bertemu dengan ibunya, semua menjadi gelap. Yang paling benar di matanya hanyalah perkataan ibunya. Saya takut bila ibu mertua saya ikut tinggal bersama kami, rumah tangga kami berantakan lagi. Bagaimana saya menyampaikan hal ini kepada suami saya, Ustadz?

 

Perlu diketahui, saat ibu mertua tinggal di kampung, kami selalu mengirim sejumlah uang untuknya. Menurut suami saya, ibunya menyuruh suami saya untuk melakukan balas budi karena sudah disekolahkan oleh sang ibu. Bahkan katanya, separoh uang gaji ibunya digunakan untuk biaya sekolah suami saya. Padahal kedua adiknya saja tahu bahwa sikap ibunya memang kurang baik. Karenanya, mereka tidak mau tinggal bersama ibu mertua saya, meskipun mereka berada dalam satu kota. Bagaimana menurut Ustadz?

 

Selain itu, suami saya kurang mengenal karakter ibunya, karena setelah lulus SMP, dia tidak serumah lagi dengan ibunya. Dia tinggal di kost karena sekolahnya agak jauh. Mohon sekali jawabannya Ustadz.

Baca Selengkapnya Rumah Tanggaku Pernah Berantakan Gara-gara Ibu Mertua

Cerai Dalam Keadaan Emosi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz, saya ingin bertanya: Bagaimana hukumnya bila seorang suami mengatakan cerai kepada isterinya dalam keadaan emosi berat? Apakah hal itu sudah dianggap jatuh thalak? Bagaimana pula hukumnya bila hal itu sering dilakukan? Bila mereka masih tetap tinggal satu rumah, bukankah mereka harus membayar denda? Bagaimana tanggapan Ustadz menurut tinjauan Islam? Terima kasih sebelumnya atas jawaban yang diberikan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
N-…..

Jawaban:
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudara N yang saya hormati, ulama berbeda pendapat mengenai kriteria atau persyaratan jatuhnya thalak. Ada sebagian ulama yang mempermudah persyaratan jatuhnya thalak. Mereka berpendapat bahwa thalak akan jatuh bila seorang laki-laki mengucapkan kata “cerai” baik dalam keadaan bercanda ataupun serius, marah ataupun tidak. Pendapat mereka ini didasarkan pada sabda Nabi saw.: “Tiga perkara yang apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dianggap serius, dan apabila dilakukan dengan bergurau juga dianggap serius, yaitu nikah, thalak dan rujuk.” (HR. Tirmidzi)
 
Ada pula ulama yang memperketat persyaratan jatuhnya thalak. Mereka berpendapat bahwa thalak tidak jatuh kecuali bila dilakukan dalam keadaan sadar. Bila seseorang menjatuhkan thalak kepada isterinya dalam keadaan tidak sadar, baik karena faktor emosi berat ataupun karena faktor-faktor lainnya, maka thalaknya dianggap tidak sah. Hal ini didasarkan pada Hadits Nabi saw.: “Tidak sah thalak dalam ketidaksadaran.” Abu Dawud menafsirkan kata “ketidaksadaran” dalam Hadits tersebut dengan kondisi marah berlebihan yang menyebabkan ingatan seseorang tertutup sehingga dia akan mengucapkan perkataan yang tidak diinginkannya.

Di sini, saya mencoba memadukan pengertian kedua Hadits tersebut, yaitu bahwa Hadits pertama lebih bersifat preventif, dengan maksud agar setiap Muslim lebih berhati-hati dalam menjaga pernikahannya. Hendaknya dia tidak mudah menjatuhkan thalak dan tidak bermain-main dengan kata "thalak", karena pernikahan adalah sebuah ikatan yang harus dijaga kesuciannya. Andaikata dia memang ingin menjatuhkan thalak, maka harus dipikir matang-matang. Dia juga harus lebih bisa menahan emosi karena emosi merupakan faktor terbesar jatuhnya thalak. Terkadang saat sedang emosi, seseorang dengan sadar menceraikan isterinya tanpa memikirkan terlebih dahulu hal-hal yang akan terjadi setelahnya. Sehingga tidak sedikit orang yang menyesal setelah perceraian itu terjadi.

Baca SelengkapnyaCerai Dalam Keadaan Emosi