Bila Istri Menuntut Cerai, Bolehkah Suami Isteri Bersatu Kembali?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam lindungan ALLAH swt., amin. Ustadz, saya adalah seorang laki-laki yang sudah bercerai dengan isteri saya. Sebenarnya bukan saya yang menginginkan perceraian, namun isteri sayalah yang mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Sampai sekarang saya masih sedikit shock dan belum mengerti mengapa isteri saya menuntut cerai. Sebab selama 5 tahun pernikahan, hampir tidak ada perselisihan besar di antara kami. Perselisihan kecil memang terkadang terjadi, namun intensitasnya tidak terlalu sering, dan itu pun tidak berlangsung lama. Selain itu, saya tidak pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga dan tidak pula menelantarkannya. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Palu hakim sudah diketok dan pengadilan pun menerima gugatan cerai isteri saya.

Jujur, hati kecil saya sebenarnya masih mencintainya dan saya ingin bersatu lagi dengannya. Apalagi, bila mengingat masa depan anak saya yang masih berusia 2 tahun. Namun, saya pernah dengar bahwa bila pihak wanita yang menuntut cerai (khulu’), maka sepasang suami isteri tersebut tidak boleh bersatu lagi untuk selamanya. Apakah benar seperti itu, Ustadz? Dan apakah benar seorang wanita yang menuntut cerai tanpa ada alasan yang kuat dilaknat ALLAH? Bila saya ingin kembali lagi dengannya, apa hal itu mungkin? Bila mungkin, langkah-langkah apa yang perlu saya lakukan menurut Ustadz? Mohon saran dan jawabannya. Terima kasih. 
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

X-…….

 


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Saudaraku yang terhormat, saya turut prihatin atas masalah yang menimpa Anda. Dalam kasus yang Anda hadapi, ada beberapa kemungkinan faktor yang menyebabkan isteri Anda menuntut cerai. Bisa jadi karena ada sikap Anda yang tidak menyenangkan hatinya namun dia tidak mau mengungkapkannya secara terus terang, atau bisa jadi karena dia tidak mencintai Anda dan tidak mau berusaha untuk menumbuhkan dan memupuk rasa cintanya kepada Anda. Bahkan, bisa jadi karena adanya tekanan dari keluarganya atau ada laki-laki lain yang telah memikat hatinya.

Baca Selengkapnya Bila Istri Menuntut Cerai, Bolehkah Suami Isteri Bersatu Kembali?

Batasan Berbakti Kepada Orangtua

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam kenal, Pak! Bapak dan keluarga apa kabar? Pak, saya termasuk anggota Group Pecinta Qur’an dan Sunnah. Saya mau tanya sedikit, sebenarnya definisi berbakti kepada orangtua itu sebatas apa? Maksudnya, sejauhmana seorang anak harus berbakti kepada ibunya? Apakah semua permintaan dan kehendak ibunya harus dituruti agar tidak menjadi anak yang durhaka? Bukannya orangtua juga bisa salah, Pak? Apakah pada saat itu kita boleh memberi saran atau masukan?

 

Di sini, saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman pribadi teman saya. Suami teman saya takut sekali menolak kemauan ibunya ataupun menegur ibunya (bila sang ibu melakukan kesalahan), karena sang ibu gampang sekali melontarkan kata-kata “anak durhaka”. Terkadang untuk hal-hal yang sepele saja, kata-kata seperti itu sering keluar dari mulutnya. Kalau seperti itu bagaimana, Pak?

 

Bahkan untuk mendapatkan maaf dari sang ibu, suami teman saya itu harus mencium kaki ibunya dulu. Padahal –menurut saya- masalanya sepele sekali. Awalnya, sang ibu pergi ke pasar bersama suami teman saya itu. Di pasar, sang ibu menawar suatu barang dengan harga tertentu. Tapi setelah penjual menyetujui harga yang ditawar sang ibu, sang ibu malah menawar lagi dengan harga yang lebih murah. Melihat itu, suami teman saya pun langsung menegur ibunya karena dia khawatir sang penjual akan marah (dan nampaknya dia memang sudah marah). Maksud hati ingin mengingatkan sang ibu, eh malah sang ibu marah-marah kepada anaknya. Lalu dia melontarkan kata-kata “anak durhaka”.

 

Kisah di atas hanyalah salah satu contoh saja, Pak. Mungkin masih banyak lagi kejadian-kejadian serupa yang sebenarnya berawal dari masalah-masalah sepele. Bagaimana kita harus menyikapi ibu seperti itu, Pak? Selain itu, sang ibu tidak mau “lepas” dari anaknya. Dia terlalu manja kepada suami teman saya itu. Padahal untuk isteri dan anaknya saja, suami saya itu jarang punya waktu karena pekerjaannya sangat banyak, sampai-sampai jarang ada hari libur. Apa mungkin hal itu disebabkan karena ibunya sudah janda, jadi dia ingin bermanja-manjaan dengan anaknya? Kalau seperti itu, bagaimana caranya agar suami teman saya itu bisa bersikap adil dalam mengurus ibu, anak dan juga isterinya?

 

Oya Pak, ada satu pertanyaan lagi, apa benar dalam Al-Qur`an ada ayat yang menegaskan bahwa semua harta anak laki-laki adalah hak ibunya? Jika benar, lalu siapa yang berkewajiban menafkahi isteri dan anaknya? Mohon jawabannya, Pak! Terima kasih.

Baca Selengkapnya Batasan Berbakti Kepada Orangtua

Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Istri

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya seorang istri telah menikah 14 tahun dan belum dikaruniai anak. Setelah diperiksa, ternyata kami berdua mempunyai kekurangan. Saya telah menjalani pengobatan sampai selesai dan telah dilaparascopy. Menurut dokter, alhamdulillah saya sehat. Sekarang tinggal suami saya yang harus menjalani pengobatan selama 3 bulan dan harus disuntik hormon 2x sebulan. Karena beliau takut disuntik, maka pengobatan ini pun diabaikan. Saya akhirnya pasrah saja. Ini terjadi pada tahun 2004.

 

Pada tahun 2008, suami meminta untuk menikah lagi dengan alasan ingin punya anak. Saya ajukan syarat harus berobat dulu selama 2 tahun. Saat itu, suami menyetujui syarat yang saya ajukan. Tetapi ternyata, bulan kemarin suami telah menikah tanpa sepengetahuan saya. Beliau membohongi saya dengan alasan pergi melihat keponakannya. Bagaimana hukumnya suami menikah tanpa izin isteri pertama? Dan bagaimana pendapat Ustadz mengenai sikap dia yang telah melanggar janjinya? Bolehkah saya meminta cerai dari suami dengan alasan suami telah melanggar janji dan membohongi saya? Saya terpaksa menanyakan hal itu meskipun saya tahu bahwa tidak akan masuk surga seorang isteri yang meminta pisah dari suaminya. Mohon penjelasannya pak Ustadz. Terima kasih

Wassalamualaikum Wr. Wb.

H-...

 


Jawaban:

 

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Sebelumnya, saya mohon maaf bila jawaban yang saya berikan cukup lama. Hal itu semata-mata karena beberapa minggu terakhir saya sangat sibuk, bahkan terkadang harus keluar kota. Apalagi dengan melihat permasalahan yang ibu lontarkan cukup rumit, sehingga saya harus berhati-hati dalam menjawabnya. Terus terang, saya pribadi ikut prihatin atas apa yang telah ibu alami. Tetapi saya berharap mudah-mudahan Allah memberikan jalan yang terbaik untuk ibu. Aamiin…

Baca Selengkapnya Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Istri