Batasan Berbakti Kepada Orangtua

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam kenal, Pak! Bapak dan keluarga apa kabar? Pak, saya termasuk anggota Group Pecinta Qur’an dan Sunnah. Saya mau tanya sedikit, sebenarnya definisi berbakti kepada orangtua itu sebatas apa? Maksudnya, sejauhmana seorang anak harus berbakti kepada ibunya? Apakah semua permintaan dan kehendak ibunya harus dituruti agar tidak menjadi anak yang durhaka? Bukannya orangtua juga bisa salah, Pak? Apakah pada saat itu kita boleh memberi saran atau masukan?

 

Di sini, saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman pribadi teman saya. Suami teman saya takut sekali menolak kemauan ibunya ataupun menegur ibunya (bila sang ibu melakukan kesalahan), karena sang ibu gampang sekali melontarkan kata-kata “anak durhaka”. Terkadang untuk hal-hal yang sepele saja, kata-kata seperti itu sering keluar dari mulutnya. Kalau seperti itu bagaimana, Pak?

 

Bahkan untuk mendapatkan maaf dari sang ibu, suami teman saya itu harus mencium kaki ibunya dulu. Padahal –menurut saya- masalanya sepele sekali. Awalnya, sang ibu pergi ke pasar bersama suami teman saya itu. Di pasar, sang ibu menawar suatu barang dengan harga tertentu. Tapi setelah penjual menyetujui harga yang ditawar sang ibu, sang ibu malah menawar lagi dengan harga yang lebih murah. Melihat itu, suami teman saya pun langsung menegur ibunya karena dia khawatir sang penjual akan marah (dan nampaknya dia memang sudah marah). Maksud hati ingin mengingatkan sang ibu, eh malah sang ibu marah-marah kepada anaknya. Lalu dia melontarkan kata-kata “anak durhaka”.

 

Kisah di atas hanyalah salah satu contoh saja, Pak. Mungkin masih banyak lagi kejadian-kejadian serupa yang sebenarnya berawal dari masalah-masalah sepele. Bagaimana kita harus menyikapi ibu seperti itu, Pak? Selain itu, sang ibu tidak mau “lepas” dari anaknya. Dia terlalu manja kepada suami teman saya itu. Padahal untuk isteri dan anaknya saja, suami saya itu jarang punya waktu karena pekerjaannya sangat banyak, sampai-sampai jarang ada hari libur. Apa mungkin hal itu disebabkan karena ibunya sudah janda, jadi dia ingin bermanja-manjaan dengan anaknya? Kalau seperti itu, bagaimana caranya agar suami teman saya itu bisa bersikap adil dalam mengurus ibu, anak dan juga isterinya?

 

Oya Pak, ada satu pertanyaan lagi, apa benar dalam Al-Qur`an ada ayat yang menegaskan bahwa semua harta anak laki-laki adalah hak ibunya? Jika benar, lalu siapa yang berkewajiban menafkahi isteri dan anaknya? Mohon jawabannya, Pak! Terima kasih.

Baca Selengkapnya Batasan Berbakti Kepada Orangtua

Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Istri

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya seorang istri telah menikah 14 tahun dan belum dikaruniai anak. Setelah diperiksa, ternyata kami berdua mempunyai kekurangan. Saya telah menjalani pengobatan sampai selesai dan telah dilaparascopy. Menurut dokter, alhamdulillah saya sehat. Sekarang tinggal suami saya yang harus menjalani pengobatan selama 3 bulan dan harus disuntik hormon 2x sebulan. Karena beliau takut disuntik, maka pengobatan ini pun diabaikan. Saya akhirnya pasrah saja. Ini terjadi pada tahun 2004.

 

Pada tahun 2008, suami meminta untuk menikah lagi dengan alasan ingin punya anak. Saya ajukan syarat harus berobat dulu selama 2 tahun. Saat itu, suami menyetujui syarat yang saya ajukan. Tetapi ternyata, bulan kemarin suami telah menikah tanpa sepengetahuan saya. Beliau membohongi saya dengan alasan pergi melihat keponakannya. Bagaimana hukumnya suami menikah tanpa izin isteri pertama? Dan bagaimana pendapat Ustadz mengenai sikap dia yang telah melanggar janjinya? Bolehkah saya meminta cerai dari suami dengan alasan suami telah melanggar janji dan membohongi saya? Saya terpaksa menanyakan hal itu meskipun saya tahu bahwa tidak akan masuk surga seorang isteri yang meminta pisah dari suaminya. Mohon penjelasannya pak Ustadz. Terima kasih

Wassalamualaikum Wr. Wb.

H-...

 


Jawaban:

 

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Sebelumnya, saya mohon maaf bila jawaban yang saya berikan cukup lama. Hal itu semata-mata karena beberapa minggu terakhir saya sangat sibuk, bahkan terkadang harus keluar kota. Apalagi dengan melihat permasalahan yang ibu lontarkan cukup rumit, sehingga saya harus berhati-hati dalam menjawabnya. Terus terang, saya pribadi ikut prihatin atas apa yang telah ibu alami. Tetapi saya berharap mudah-mudahan Allah memberikan jalan yang terbaik untuk ibu. Aamiin…

Baca Selengkapnya Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Istri

Bila Suami Mengatakan Pisah, Apakah Jatuh Talak?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:

  1. Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan bila suami hendak menceraikan isterinya?
  2. Apabila suami berkata “pisah” kepada isterinya, apakah sama dengan artinya kata “cerai”? Dan apakah jatuh thalak?
  3. Mohon penjelasannya tentang apa yang dimaksud thalak 1, thalak 2 dan thalak 3. Terima kasih sebelum dan sesudahnya.


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Y-.....

 

 

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

 

1. Karena pernikahan merupakan sebuah ikatan suci, maka setiap Muslim harus berusaha untuk menjaganya semaksimal mungkin dan tidak mudah memutuskan ikatan tersebut, kecuali bila ada faktor-faktor tertentu yang menyebabkan ikatan suci tersebut tidak bisa dipertahankan lagi. Oleh karena itu,bila ada satu masalah rumah tangga, maka seorang suami yang ingin menceraikan isterinya atau isteri yang ingin menuntut cerai sebaiknya berfikir matang-matang atau mempertimbangkannya berulang-ulang, lebih dianjurkan untuk beristikharah terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi keinginannya untuk bercerai itu hanya didasari oleh emosi sesaat saja, tanpa mempertimbangkan sisi-sisi positif dan sisi-sisi negatifnya. Hal itu terkadang akan menyebabkan penyesalan yang selalu datang di akhir.

 

Bila ternyata masalah itu tidak dapat diatasi oleh suami isteri,

Baca Selengkapnya Bila Suami Mengatakan Pisah, Apakah Jatuh Talak?