Ditelantarkan Suami, Apakah Jatuh Thalak?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya memiliki suami yang alhamdulillah taat luar biasa kepada ibunya. Bagi suami saya, ibunya adalah segala-galanya. Perkataannya adalah perintahnya. Bahkan saat ini, suami telah meninggalkan saya dan bayi kami (yang kini berusia 21 bulan) tanpa ada berita apapun selama dua bulan. Hal itu dia lakukan agar dia dapat menikah dengan wanita pilihan ibunya. Sebab dengan pilihan ibunya itu, kondisi ekonomi keluarganya di kampung bisa meningkat. Bagaimana seharusnya tindakan saya? Apa tindakan suami saya itu bisa dibenarkan?


Apakah nanti setelah 3 bulan 10 hari setelah kepergian suami saya itu, bisa dikatakan bahwa saya telah menjalani masa ‘iddah? Salahkah saya jika setelah itu saya mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan, dengan alasan suami telah menelantarkan saya dan juga anak kami. Perlu diketahui, sampai sekarang suami tidak pernah peduli dengan kabar kami, bahkan untuk mengirim SMS guna menanyakan kabar kami saja tidak pernah. Mohon penjelasannya, terima kasih.

Baca Selengkapnya Ditelantarkan Suami, Apakah Jatuh Thalak?

Hukum Nikah Beda Agama

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya mau tanya, apa hukum menikah dengan orang yang berbeda agama, dan apa hukumnya menikah dengan orang yang berbeda agama di catatan sipil?


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

J - ……

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.


Pernikahan beda agama atau pernikahan lintas agama merupakan sebuah pembahasan yang pernah ramai diperbincangkan di Indonesia beberapa tahun silam, dimana pada saat itu ada perbedaan pendapat antara sekelompok ulama dengan kelompok ulama lainnya atau antara sekelompok ulama dengan sekelompok intelektual Muslim. Karena perbedaan pendapat di antara mereka itu disebabkan karena adanya perbedaan penafsiran terhadap sejumlah ayat yang dijadikan landasan hukum dalam masalah tersebut, maka sebelum menjawab, saya akan menyebutkan ayat-ayat tersebut terlebih dahulu.

Baca Selengkapnya Hukum Nikah Beda Agama

Kehormatanku Sudah Direnggut, Haruskah Aku Jujur Pada Calon Suami?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tadinya saya sedang menunggu seorang pria yang ingin melamar saya 5 bulan lagi, karena dia sedang dalam masa kontrak dengan perusahaan tempat dia bekerja. Selama masa penantian itu, kami sepakat untuk tidak berkomunikasi. Kami sudah saling mengenal sejak lama. Dia kakak kelasku sewaktu kuliah dulu. Jujur, saya senang sekali dengan niatan dia untuk melamar saya, karena –menurut saya- akhlak dan agamanya baik.

 

Tapi ada satu hal yang membuat saya takut. Saya memiliki masa lalu yang tidak baik. Saya tidak bisa menjaga kehormatan saya. Tetapi alhamdulillah sekarang saya selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah. Saya ingin jujur kepada dia, apapun yang terjadi nantinya, saya harus jujur sebelum dia menikahi saya. Sebab, saya tidak mau berbohong kepada dia tentang masa lalu saya.
 
Alhamdulillah saya sudah lega. Saya sudah jujur kepada dia, dan akhirnya dia memutuskan untuk tidak jadi melamar saya. Ini adalah resiko yang harus saya tanggung atas perbuatan saya di masa lalu. Saya akan mencoba ikhlas dan ridha atas semua keputusannya. Saya yakin rencana Allah –di balik semua itu- pasti indah. Tapi saya harus menjalani semuanya. Saya harus tetap SABAR dan SEMANGAT. Saya tidak akan menyerah karena saya yakin Cinta Allah akan selalu melindungi saya, dan hanya dengan Cinta-Nya itu saya dapat bertahan. Lalu apakah seorang seperti saya bisa menjadi seorang wanita yang shalehah, wanita yang akan dipilih oleh seorang laki-laki shaleh untuk dijadikan isterinya dn juga ibu dari anak-anaknya, meskipun saya memiliki masa lalu yang sangat buruk?? Masih pantaskah saya mendapat seorang pendamping yang shaleh?

Baca Selengkapnya Kehormatanku Sudah Direnggut, Haruskah Aku Jujur Pada Calon Suami?