Dilema wanita Yang Akan Dimadu

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya baru saja membaca blog Bapak. Kebetulan sekarang saya sedang menghadapi satu masalah, karena itu saya ingin berkonsultasi kepada Bapak. Begini Pak, saya dan suami menikah bulan Juli tahun lalu. Sebenarnya kami sudah saling mengenal selama kira-kira 6 tahun. Tetapi karena dia baru bekerja tahun lalu, maka kami pun baru menikah. Saya menikah dengannya dengan niat karena Allah, yaitu dengan niat ibadah kepada-Nya, untuk menjauhi perbuatan dosa dan untuk membina keluarga yang sakinah serta penuh mawaddah dan rahmah.

Saya mau menikah dengannya karena dia yang mengajari saya tentang Islam. Namun mungkin karena faktor cobaan, sekarang suami saya bekerja di kapal pesiar, sebuah lingkungan yang jarang menjalankan ibadah. Sebelum menikah, dia sudah mengenal seorang wanita melalui dunia maya. Bahkan mereka pernah bertemu sekali, namun hal itu diketahui oleh saya. Dia pun meminta maaf kepada saya, dan akhirnya kami menikah.

Namun saat kami kembali ke Jerman (setelah kami menikah), wanita itu menghubungi suami saya lagi. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa jauh dari suami saya, dan dia tidak menginginkan apa-apa kecuali hanya cintanya. Bahkan dia rela untuk ikut ke Jakarta, tempat dimana kami akan tinggal. Dia juga mengatakan bahwa dirinya akan masuk Islam asal suami saya mau menikah dengannya.

Sebenarnya suami saya sudah memutuskan hubungan dengannya hingga 3 kali, namun wanita itu merasa sangat bersedih. Katanya, dia siap menjadi isteri kedua. Dua hari yang lalu (sebelum konsultasi ini disampaikan-red), suami saya berterus terang kepada saya bahwa dia masih berhubungan dengan wanita itu. Dia sudah berusaha untuk tidak berhubungan, namun tetap tidak bisa. Saya sarankan kepadanya: “Memohonlah kepada Allah agar kamu diberi yang terbaik!” Saya sarankan hal itu karena saya tahu, di kapal dia mungkin jarang ada waktu untuk shalat. Saya hanya bisa mengingatkan dia dan berdoa saja, Pak.

Baca Selengkapnya Dilema wanita Yang Akan Dimadu

Mertuaku Cerewet

Assalammualaikum Wr. Wb.
Ustadz, saya dan anak diminta suami tinggal di rumah mertua di kota C, kurang lebih 3 jam dari Jakarta. Suami saya bekerja di Jakarta, sedangkan saya bekerja di kota S, kurang lebih 2 jam dari Jakarta dan 1/2 jam dari kota C. Namun, saya hanya sesekali saja ke kota S dan lebih banyak bekerja di rumah. Saya sudah berusaha untuk menuruti suami tinggal di kota C, karena suami ingin saya menemani orangtuanya dan ingin anak kami dibesarkan di lingkungan dimana suami dulu tinggal.

 

Namun, saya tidak betah tinggal di rumah mertua karena mertua perempuan saya sangat cerewet dan suaranya sangat keras, sehingga saya merasa tidak pernah tenang dan ikut pusing tujuh keliling mendengar semua problem yang diceritakan oleh mertua saya. Mertua saya sangat senang berbicara karena beliau guru bahasa. Bahkan, beliau hampir tidak pernah diam. Saat membaca majalah atau koran pun, beliau melakukannya dengan suara keras agar orang lain dapat mendengar.

 

Sementara itu, pekerjaan saya sangat membutuhkan ketenangan, karena saya harus membaca banyak buku dan literatur, lalu menuliskannya kembali dalam bentuk makalah atau penelitian. Mertua laki-laki saya suaranya juga sangat keras dan orangnya galak. Mertua laki-laki sering meminta uang ke istrinya yang juga bekerja. Anehnya, kalau marah, dia seringkali menyemprot istrinya dengan air pada saat sedang tidur malam hari..Mohon petunjuknya Ustadz. Syukron.

Baca Selengkapnya Mertuaku Cerewet

Ibuku Selingkuh

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Afwan Ustadz, saya mau tanya. Sekarang ini saya sedang bingung. Saya takut salah langkah dan salah ucap. Saya ada masalah dengan ibu kandung saya sendiri. Kurang lebih 1 tahun ini, saya curiga ibu saya selingkuh dengan laki-laki lain. Nenek saya yang tinggal satu rumah dengan ibu juga cerita mengenai hal itu. Terakhir saya memberanikan diri untuk menelpon ibu guna membicarakan hal itu kepadanya, karena waktu nenek saya tanya ibu dimana, beliau menjawab bahwa ibu sedang makan. Karena saya interogasi, akhirnya ibu mengaku bahwa teman yang mengajaknya makan itu adalah laki-laki yang sudah beristeri. Saat itu saya sangat marah, tapi suara saya tidak tinggi. Saya katakan kepada ibu: “Hati-hati bu, nanti jadi fitnah!” Ibu saya malah marah. Beliau meyakinkan bahwa tidak ada apa-apa antara beliau dengan laki-laki itu.

 

Namun, saya punya banyak bukti bahwa telah terjadi sesuatu di antara mereka. Saya harus bagaimana, Ustadz? Waktu nelpon ibu, sempet juga sih suara saya agak tinggi, tepatnya pas saya mengingatkan ibu bahwa ayah sedang beribadah haji. Saya harus bagaimana, Ustadz? Pasti ibu sangat kesal. Jawaban Ustadz saya tunggu. Terima kasih.

Baca Selengkapnya Ibuku Selingkuh