Cari Di Sini!

Hukum Air Mani PDF Print E-mail
Konsultasi Umum (Fiqh)

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Selamat malam Pak Ustadz, terima kasih atas penjelasan Bapak tentang hukum makanan (daging) di negeri non Islam kemarin (red. 24 juli), yang Alhamdulillah semakin memberikan pencerahan kepada saya. Masih ada beberapa pertanyaan lain yang saya mohon penjelasan dari Ustadz :

 

  • Bagaimana hukumnya peralatan makan atau masak yang kemungkinan bekas memasak daging babi? Jika saya makan di kantin atau restoran, otomatis peralatan makan atau masak yang di gunakan di tempat itu pastinya pernah digunakan untuk makanan atau masakan daging babi (daging babi di negara ini sudah jadi menu masakan sehari-hari).

  •  

  • Bagaimana pula hukumnya kalau saya makan makanan atau masakan yang saya sendiri tidak tahu proses pembuatannya apakah menggunakan campuran daging atau minyak babi dan minuman keras? (minyak babi dan minuman keras di sini biasa menjadi penyedap atau pelengkap bumbu masak)

  •  

  • Terkait penjelasan Ustadz kemarin bahwa daging hewan di negara minoritas atau non-Islam adalah tidak boleh atau haram, lalu bagaimana hukumnya makanan mie instan (yang biasanya pada bagian bumbunya mengandung kaldu ayam atau sapi) dan penyedap rasa (ajinomoto) yang biasanya juga mengandung kaldu ayam atau sapi. Apakah juga termasuk haram dikonsumsi?

  •  

  • Saat kita mimpi (maaf) bersetubuh, tetapi saat bangun tidak menemukan adanya air mani yang keluar, apakah kita diwajibkan mandi junub?

  •  

  • Saat kita buang air kecil dan mendapati ada sedikit air yang keluar (saya tidak tahu persis apakah itu air mani atau hanya pelumasnya saja, tapi yang jelas bukan air seni), apakah pada saat itu kita juga diwajibkan untuk mandi junub?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Wawan - ………..

 

Jawaban:


Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Terima kasih untuk perhatian dan pertanyaannya. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan akhi satu persatu:

 

  • Dalam Islam, daging babi dihukumi sebagai najis, sebagaimana difirmankan oleh Allah swt. dalam QS. Al-An’aam (6): 145:

    قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

     

    Katakanlah: "Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - Karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang". (QS. Al-An’aam (6): 145)

     

    Sesuatu yang terkena najis akan menjadi najis pula. Jadi, peralatan masak yang digunakan untuk memasak daging babi dianggap sebagai peralatan yang terkena najis.

  •  

  • Allah swt. adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Dia akan mengampuni hamba-hamba-Nya yang melakukan sesuatu (kesalahan/dosa) karena faktor ketidaktahuan (ketidaksengajaan). Hal ini seperti yang terjadi pada kasus puasa. Bila seseorang makan tanpa disengaja, padahal dia sedang berpuasa, maka puasanya tidak batal. Dia harus membuang sisa makanan yang ada di mulutnya dan meneruskan puasanya. Demikian pula dalam hal makanan, Allah akan memaafkan hamba-Nya yang memakan sesuatu yang haram karena dia tidak tahu kalau yang dimakannya itu sesuatu yang haram. Ini adalah rukhsah (keringanan) yang telah diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Tetapi ada satu kaidah ushul fikih yang perlu diingat dalam kaitannya dengan masalah yang akhi tanyakan, yaitu: al-aadaatu muhakkamatun (kebiasaan itu bisa dijadikan sebagai dasar hukum). Maksudnya, bila akhi sudah tahu bahwa hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan di negeri tempat tinggal akhi sekarang, maka makanan yang tidak diketahui proses pembuatannya sebaiknya tidak dikonsumsi. Apalagi seperti akhi katakan, minyak babi dan minuman keras di sana biasa menjadi penyedap atau pelengkap bumbu masak.

  •  

  • Bila ayam atau sapi yang digunakan untuk kaldu tersebut tidak disembelih secara sah, baik dari segi penyembelihnya ataupun tata caranya, maka ayam dan sapi tersebut dianggap sebagai bangkai, dan hukum bangkai adalah najis. Jadi, kaldunya pun dihukumi sebagai najis. Tetapi bila ayam atau sapi tersebut disembelih secara sah, maka kaldunya tidak dianggap sebagai najis. Akhi, sebelum beranjak ke tema yang lain, ada satu motivasi yang ingin saya berikan. Mudah-mudahan bisa bermanfaat. Hidup sebagai Muslim di negara yang sedang akhi tempati sekarang memang berat, dan itu merupakan ujian dari Allah swt.. Bila akhi mampu melewati ujian itu, maka saya kira nilai yang akan akhi terima dari Allah tidaklah sama dengan nilai orang lain yang berhasil melewati ujian serupa tapi tinggal dalam kondisi dan lingkungan yang berbeda.

  •  

  • Mandi junub harus dilakukan bila seseorang berhadats besar. Di antara hal yang menyebabkan seseorang berhadats besar adalah jimak (berhubungan badan) dan keluarnya air mani. Dalam hal ini, jimak dan keluarnya air mani adalah dua hal yang berbeda. Jadi, bila seseorang berhubungan badan, meskipun tidak sampai air maninya keluar, maka dia wajib mandi. Faktor jimaklah yang menyebabkannya harus mandi. Bila seseorang bermimpi hingga air maninya keluar, maka dia juga wajib mandi. Faktor keluarnya air manilah yang menyebabkannya harus mandi. Bila dia bermimpi, tetapi air maninya tidak keluar, maka dia tidak wajib mandi, karena tidak ada satupun faktor yang mengharuskan dia mandi.

  •  

  • Untuk menjawab pertanyaan kelima, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu jenis-jenis air yang keluar dari alat kelamin:

  1. Air mani adalah air sperma yg keluar di saat syahwat sedang memuncak. Hukum air ini suci atau tidak najis, tetapi mengharuskan seseorang mandi junub.
  2. Air madzi adalah cairan berwarna bening, tidak seperti air mani yg berwarna putih. Biasanya air ini keluar pada saat syahwat seseorang mulai memuncak atau ketika sudah mulai menurun. Jadi, biasanya air ini keluar sebelum atau sesudah keluarnya air mani. Hukumnya najis tetapi tidak mengharuskan seseorang mandi junub
  3. Air wadi adalah air berwarna bening yg keluar dari alat kelamin pria saat mengangkat berat, kelelahan atau saat kencing. Hukumnya najis tetapi tidak mengharuskan seseorang mandi junub.

 

Akhi maksud itu bukanlah air mani sehingga bila akhi mengalami hal seperti itu, akhi tidak perlu mandi junub. Hanya saja, air tersebut hukumnya najis, sehingga kalau pakaian akhi terkena air tersebut, maka tidak boleh digunakan untuk shalat sebelum disuci terlebih dahulu. Wallaahu A’lam….. Fatkhurozi