Bolehkah Mukena Jadi Maskawin?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, ada temen ana ingin menikah, kemudian dia mendapatkan informasi dari salah satu website Islami bahwa mahar itu lebih baik emas jangan seperangkat alat shalat. Dia bertanya kepada ana bagaimana dengan keterangan itu? Ana belum menjawab pertanyaannya. Ustadz ana mohon bantuan, bagaimana ana menjawabnya menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Syukran ya Ustadz, jazakumullah khairan katsiran.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
J -……


Jawaban:
Walaikumussalam Wr. Wb.

Akhi, pertanyaan yang Anda lontarkan sangat menarik, karena permasalahan mahar ini sering kita lihat dan saksikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika ada saudara atau tetangga kita yang menikah. Mahar merupakan sesuatu yang wajib dibayarkan oleh seorang lelaki kepada wanita yang dinikahinya, sesuai dengan firman Allah swt.: “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (setubuhi) di antara mereka, berikanlah maharnya kepada mereka (dengan sempurna).” (Q.S. al-Nisa’ : 24)

Pertanyaannya, berapa kadar mahar atau jenis mahar seperti apa yang boleh dibayarkan seorang lelaki kepada wanita yang dinikahinya itu?

Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa, mungkin statemen yang termaktub dalam website Islami yang Anda sebutkan, tidak mengandung maksud bahwa mahar berupa seperangkat alat shalat tidak dibolehkan. Tetapi mungkin maksudnya, kalau bisa jangan hanya seperangkat alat shalat, tetapi emas saja. Sebab, nilainya lebih tinggi dan sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sang isteri, terutama pada saat kondisi sulit. Jadi, saya husnuzh zhon, bahwa wesbite tersebut tidak ingin mengatakan bahwa dilihat dari segi hukum, seperangkat alat shalat tidak boleh dijadikan mahar dalam pernikahan.

Hal ini bukan tanpa alasan, karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Umar bin Khathab menjabat sebagai khalifah, beliau membatasi mas kawin tidak boleh lebih dari 400 dirham. Tetapi ternyata tindakan ini ditentang oleh seorang wanita dengan menyebutkan firman Allah swt. : “Dan jika kamu ingin menggantikan isterimu dengan isteri yang lain (karena perceraian), sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (qinthaar), maka janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikitpun“. (Q.S. al-Nisa’: 20)Kalimat “qinthaar” dalam ayat ini bermakna “harta dalam jumlah yang banyak, tanpa batas”. Seketika itu pula, Umar mengakui kekhilafannya atau kesalahannya seraya berkata: “Wanita itu benar, Umarlah yang salah”.

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada batasan maksimal untuk kadar mahar. Bila seseorang mampu, maka dia boleh memberikan mahar yang lebih daripada yang lain, tentunya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ada unsur keterpaksaan.
 
Meskipun demikian, ini bukan berarti Islam melarang mahar yang tidak mahal alias ala kadarnya. Bahkan, Islam sendiri telah menganjurkan kaumnya untuk mempermudah permasalahan mahar ini. Jangan sampai gara-gara tidak ada mahar yang diinginkan, sepasang insan yang akan menikah tidak jadi melangsungkan pernikahan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: “Wanita yang paling banyak (diberikan) keberkahan adalah wanita yang paling sedikit maharnya.

Read more: Bolehkah Mukena Jadi Maskawin?

Apakah Kodok Halal?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah kalau kepiting dihalalkan, jadi bisa makan. Sekalian mau tanya pak Ustadz, kalau swike (kodok) halal nggak? Terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
A-....


Jawaban:

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Sama seperti hukum kepiting, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum swike atau kodok. Sebagian besar ulama mengharamkan kodok dengan dalil hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy:


Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy, bahwa ada seorang tabib (dokter) yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka Rasulullah saw. melarang membunuhnya. (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i).

Read more: Apakah Kodok Halal?

Hukum Mendoakan Orangtua Non-Muslim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, mohon pencerahan; apakah doa seorang anak muslim untuk orangtuanya yang non muslim akan diterima oleh Allah swt.? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
S-....



Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Terima kasih atas pertanyaan dan perhatiannya. Pertanyaan Anda sangat menarik, hanya saja Anda tidak menyebutkan jenis doa yang Anda maksud, apakah doa agar orangtua diampuni Allah ataukah agar mereka mendapat hidayah? Tetapi tidak masalah, saya akan mencoba menjawabnya dengan menjelaskan hukum berdoa untuk kedua orangtua yang non-Muslim dengan dalil-dalil Al-Qur`an dan Hadits.


Berbakti kepada kedua orangtua merupakan satu amaliah yang diwajibkan oleh Allah swt.. Hal ini didasarkan pada sejumlah ayat yang menyandingkan penyebutan nama kedua orangtua dengan penyebutan nama Allah swt., seperti disebutkan dalam firman Allah swt.:

 

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Israa` [17]: 23)

Baca Selengkapnya Hukum Mendoakan Orangtua Non-Muslim

Search