Akibat Hamil Sebelum Nikah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz yang saya hormati, tolong bantu saya apa yang harus saya lakukan. Saya seorang ibu dari 2 orang anak. Anak pertama saya meninggal ketika di kandungan usia 8,5 bulan, anak kedua saya saat ini usia 4 bulan. Pernikahan kami hampir 2 tahun. Pada saat menikah ternyata saya sudah hamil 1,5 bulan. Suami saya sangat baik dan sayang kepada keluarga, tapi 2 bulan terakhir ini suami saya berubah sikap.

Dia seorang pendiam, ketika saya tanya permasalahannya baru dia berkata seperti ini: "Ketika kita menikah, kamu dalam kondisi yang sedang hamil, karenanya pernikahan kita tidak sah." Betapa hancur hati saya kenapa baru saat ini dia memberitahukan hal itu. Saya bingung bagaimana dengan status saya dan anak kami (kebetulan anak kami perempuan)? Dia memberikan dua pilihan kepada saya:

  1. tidak usah mengulang pernikahan tetap seperti ini saja. atau,
  2. jika saya minta mengulang pernikahan, mending pisah saja.

Mohon bantuannya, sepertinya suami saya tidak ingin bersama saya lagi, padahal saya sendiri menginginkan agar keluarga kami menjadi keluarga yang bahagia. Bahkan seandainya pernikahan kami memang tidak sah, maka saya ingin segera memperbaikinya.

Read more: Akibat Hamil Sebelum Nikah

Hukum Menikahi Wanita Hamil (2)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya mau menanyakan tentang pernikahan yang dilangsungkan karena hamil di luar nikah dan bagaimana hak atas anak tersebut. Hal ini saya tanyakan karena saya mengalaminya sendiri. Meskipun sekarang saya sudah memiliki 2 anak, tapi sampai sekarang masalah itu masih mengganjal di hati saya.

 

Apakah saya harus melakukan pernikahan ulang agar sah? Dan bagaimana status anak saya? Terima kasih sebelumnya atas jawaban yang akan Ustadz berikan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

R - ...

 

Jawaban:

 

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Saudaraku yang saya hormati, permasalahan yang Anda tanyakan sudah pernah saya bahas secara detail pada konsultasi berjudul: Hukum Menikahi Wanita Hamil dan Status Anak Di Luar Nikah.

Baca Selengkapnya Hukum Menikahi Wanita Hamil (2)

Hukum Shalat Tahajud Tanpa Witir

1-

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustad, saya mau bertanya tentang hukum melaksanakan shalat Tahajjud tanpa melakukan shalat Witir sama sekali, baik itu di awal malam (selepas shalat Isya) maupun di akhir shalat Tahajjud, apakah sah shalat Tahajjud yang dilakukan tersebut? Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Y-….

 

2-

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya ingin bertanya mengenai shalat Istikharah dan shalat Tahajjud. Bolehkah kita melakukan shalat Istikharah setelah Tahajjud? Jika kita melakukan shalat Witir setelah shalat Tahajjud, bolehkah disambung lagi dengan shalat Istikharah? Ataukah sebaiknya shalat Witirnya dilakukan setelah shalat Istikharah saja? Dan bolehkah shalat Istikharah dilakukan setiap hari?

Terima kasih, Ustadz. Mohon dijawab...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

A-….

 

Jawaban:

 

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Untuk Saudari Y yang saya hormati, shalat Witir dan shalat Tahajjud merupakan dua shalat yang hukumnya sunah, artinya bila dilakukan akan mendatangkan pahala, tetapi bila ditinggalkan tidak apa-apa. Keduanya adalah dua ibadah yang terpisah, bisa dilakukan secara terpisah, dan tidak ada “keharusan” untuk dikerjakan dalam satu paket. Anda boleh saja melakukan Tahajjud tanpa Witir, dan demikian pula sebaliknya. 

Sama seperti pertanyaan yang disampaikan dalam konsultasi berjudul “Haruskah Witir Dilakukan Setelah Tahajjud?”, pertanyaan Anda sepertinya muncul karena adanya hadits yang mengisyaratkan bahwa shalat Witir adalah penutup shalat malam (termasuk Tahajjud). Dalam konsultasi tersebut, saya sudah menjelaskan bahwa ungkapan “Shalat Witir adalah penutup shalat malam” tidak sepenuhnya benar. Sebab, ketika dikatakan sebagai penutup shalat malam, maka hal ini akan menimbulkan kesan bahwa seseorang tidak boleh melakukan Witir setelah shalat Tarawih/Isya bila dia ingin melakukan shalat Tahajud di akhir malam, atau bila seseorang tidak menutup shalat Tahajud dengan Witir maka shalat Tahajudnya tidak sah. Atau dengan ungkapan yang lebih singkat, melakukan shalat Witir di akhir semua shalat malam (termasuk Tahajud) adalah sebuah keharusan. Istilah seperti itu muncul karena adanya sebuah Hadits yang berbunyi: “Jadikanlah Witir sebagai akhir shalat kalian di waktu malam" (HR. Bukhari)

Meskipun disampaikan dengan menggunakan kata perintah, namun hal itu bukanlah sebuah keharusan, namun hanya sebatas anjuran. Artinya, seseorang boleh saja melakukan shalat Witir di awal waktu malam setelah shalat Tarawih/Isya, boleh di tengah waktu malam, dan boleh juga di akhir waktu malam yaitu setelah shalat Tahajud. Hanya saja, akan lebih disukai ALLAH bila shalat Witir itu dikerjakan di akhir semua shalat malam. Hal ini ditunjukkan oleh Hadits Nabi saw. yang berbunyi: "Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah (disaksikan)(HR. Muslim) 

Baca Selengkapnya Hukum Shalat Tahajud Tanpa Witir

Search