Lama Masa Haid

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya adakah aturan dalam Islam mengenai batas lamanya menstruasi sehingga diperbolehkan sholat dan puasa? Maksud saya jika menstruasinya itu tinggal flek-flek coklat saja itu berapa hari batasannya hingga boleh shalat dan puasa lagi? Demikian ustadz pertanyaan saya, mohon penjelasannya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
E-.....


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Mengenai lamanya masa haid, ada perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih. Kurang lebih ada sekitar enam atau tujuh pendapat, tetapi di sini saya hanya menyebutkan empat pendapat saja:

 

Pertama, Imam Hanafi berpendapat bahwa masa haid paling cepat adalah tiga hari tiga malam. Sedangkan masa paling lama adalah sepuluh hari sepuluh malam. Menurut pendapat ini, bila ada darah yang keluar dari alat kelamin wanita dalam waktu kurang dari tiga hari tiga malam atau lebih dari sepuluh hari sepuluh malam, maka darah tersebut tidak dikatagorikan sebagai darah haid, melainkan darah istihadhah. Darah istihadhah adalah darah penyakit yang tidak menghalangi seorang wanita dari kewajiban shalat dan puasa. Artinya, bila seorang wanita mengalami hal itu, maka dia masih harus tetap menunaikan shalat dan menjalankan ibadah puasa.

Baca Selengkapnya Lama Masa Haid

Hukum Mengganti Puasa Bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz, bagaimana cara mengganti puasa bagi wanita yg sedang hamil atau wanita yang sedang menyusui, karena saya pernah mendengar bahwa selain bayar fidyah, dia juga wajib menggantinya di hari yg lain? Mohon pencerahannya…Terima kasih banyak.
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.
D-....

Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Tidak adanya nash baik dari Al-Qur`an ataupun hadits yang secara tegas menjelaskan permasalahan tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sedikitnya ada 4 pendapat yang berkaitan dengan hukum mengganti puasa bagi wanita hamil dan wanita yang menyusui:

1. Sebagian ulama seperti Imam Hanafi, Abu Tsaur dan Abu Ubaid berpendapat bahwa kedua wanita tersebut harus mengganti puasa dan tidak perlu membayar fidyah. Mereka meng-qiyas-kan (menyamakan) wanita hamil atau wanita menyusui dengan orang yang sakit. Sebagaimana diketahui, orang yang sakit dibolehkan untuk tidak berpuasa tetapi dia harus menggantinya di hari lain, seperti disebutkan dalam QS. Al-Baqarah (2): 186: “Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, (maka dia boleh tidak berpuasa) dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain“.

Baca Selengkapnya Hukum Mengganti Puasa Bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Hukum Air Mani

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat malam Pak Ustadz, terima kasih atas penjelasan Bapak tentang hukum makanan (daging) di negeri non Islam kemarin (red. 24 juli), yang Alhamdulillah semakin memberikan pencerahan kepada saya. Masih ada beberapa pertanyaan lain yang saya mohon penjelasan dari Ustadz :

Bagaimana hukumnya peralatan makan atau masak yang kemungkinan bekas memasak daging babi? Jika saya makan di kantin atau restoran, otomatis peralatan makan atau masak yang di gunakan di tempat itu pastinya pernah digunakan untuk makanan atau masakan daging babi (daging babi di negara ini sudah jadi menu masakan sehari-hari).

Bagaimana pula hukumnya kalau saya makan makanan atau masakan yang saya sendiri tidak tahu proses pembuatannya apakah menggunakan campuran daging atau minyak babi dan minuman keras? (minyak babi dan minuman keras di sini biasa menjadi penyedap atau pelengkap bumbu masak)

Terkait penjelasan Ustadz kemarin bahwa daging hewan di negara minoritas atau non-Islam adalah tidak boleh atau haram, lalu bagaimana hukumnya makanan mie instan (yang biasanya pada bagian bumbunya mengandung kaldu ayam atau sapi) dan penyedap rasa (ajinomoto) yang biasanya juga mengandung kaldu ayam atau sapi. Apakah juga termasuk haram dikonsumsi?

Baca Selengkapnya Hukum Air Mani