Penentuan 1 Ramadhan: Mana Yang Benar?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin kita perlu mendapat penjelasan dari yang ahli tentang hukum-hukum agama. Insya Allah dalam beberapa hari lagi kita akan memasuki satu bulan yang dijanjikan Allah sebagai bulan yang penuh dengan ampunan dosa, ganjaran pahala yg berlipat ganda, dan lebih dari itu tentu masing-masing kita ingin menjadikan Ramadhan ini lebih baik dan lebih berkualitas dalam beribadah dibandingkan dengan tahun-tahun yang telah kita lalui.

Tetapi, selalu saja terjadi perbedaan antara sesama umat Islam tentang penentuan tanggal 1 Ramadhan yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menentukan 1 Syawal. Bahkan, terkadang perbedaan itu terjadi dalam satu kota yang sama koordinat bujur dan lintangnya. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi?

Terima kasih atas tanggapannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Gh-…..


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Di beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Indonesia, sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai penentuan 1 Ramadhan atau 1 Syawal. Munculnya perbedaan ini disebabkan karena dua hal:

1. Perbedaan pemahaman terhadap hadits Rasulullah saw. yang dijadikan sebagai dasar penentuan awal Ramadhan atau awal Syawal. Hadits tersebut berbunyi:



صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ أُغْمِيَ
عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ

Berpuasalah kalian karena melihat bulan, dan berbukalah (berhari rayalah) kalian karena melihatnya. Jika mendung telah menghalangi kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah) hitungan Sya’ban.(HR. Muslim)

Baca Selengkapnya Penentuan 1 Ramadhan: Mana Yang Benar?

Bolehkah Mukena Jadi Maskawin?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, ada temen ana ingin menikah, kemudian dia mendapatkan informasi dari salah satu website Islami bahwa mahar itu lebih baik emas jangan seperangkat alat shalat. Dia bertanya kepada ana bagaimana dengan keterangan itu? Ana belum menjawab pertanyaannya. Ustadz ana mohon bantuan, bagaimana ana menjawabnya menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Syukran ya Ustadz, jazakumullah khairan katsiran.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
J -……


Jawaban:
Walaikumussalam Wr. Wb.

Akhi, pertanyaan yang Anda lontarkan sangat menarik, karena permasalahan mahar ini sering kita lihat dan saksikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika ada saudara atau tetangga kita yang menikah. Mahar merupakan sesuatu yang wajib dibayarkan oleh seorang lelaki kepada wanita yang dinikahinya, sesuai dengan firman Allah swt.: “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (setubuhi) di antara mereka, berikanlah maharnya kepada mereka (dengan sempurna).” (Q.S. al-Nisa’ : 24)

Pertanyaannya, berapa kadar mahar atau jenis mahar seperti apa yang boleh dibayarkan seorang lelaki kepada wanita yang dinikahinya itu?

Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa, mungkin statemen yang termaktub dalam website Islami yang Anda sebutkan, tidak mengandung maksud bahwa mahar berupa seperangkat alat shalat tidak dibolehkan. Tetapi mungkin maksudnya, kalau bisa jangan hanya seperangkat alat shalat, tetapi emas saja. Sebab, nilainya lebih tinggi dan sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sang isteri, terutama pada saat kondisi sulit. Jadi, saya husnuzh zhon, bahwa wesbite tersebut tidak ingin mengatakan bahwa dilihat dari segi hukum, seperangkat alat shalat tidak boleh dijadikan mahar dalam pernikahan.

Hal ini bukan tanpa alasan, karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Umar bin Khathab menjabat sebagai khalifah, beliau membatasi mas kawin tidak boleh lebih dari 400 dirham. Tetapi ternyata tindakan ini ditentang oleh seorang wanita dengan menyebutkan firman Allah swt. : “Dan jika kamu ingin menggantikan isterimu dengan isteri yang lain (karena perceraian), sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (qinthaar), maka janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikitpun“. (Q.S. al-Nisa’: 20)Kalimat “qinthaar” dalam ayat ini bermakna “harta dalam jumlah yang banyak, tanpa batas”. Seketika itu pula, Umar mengakui kekhilafannya atau kesalahannya seraya berkata: “Wanita itu benar, Umarlah yang salah”.

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada batasan maksimal untuk kadar mahar. Bila seseorang mampu, maka dia boleh memberikan mahar yang lebih daripada yang lain, tentunya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ada unsur keterpaksaan.
 
Meskipun demikian, ini bukan berarti Islam melarang mahar yang tidak mahal alias ala kadarnya. Bahkan, Islam sendiri telah menganjurkan kaumnya untuk mempermudah permasalahan mahar ini. Jangan sampai gara-gara tidak ada mahar yang diinginkan, sepasang insan yang akan menikah tidak jadi melangsungkan pernikahan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: “Wanita yang paling banyak (diberikan) keberkahan adalah wanita yang paling sedikit maharnya.

Baca Selengkapnya Bolehkah Mukena Jadi Maskawin?

Apakah Kodok Halal?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah kalau kepiting dihalalkan, jadi bisa makan. Sekalian mau tanya pak Ustadz, kalau swike (kodok) halal nggak? Terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
A-....


Jawaban:

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.

Sama seperti hukum kepiting, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum swike atau kodok. Sebagian besar ulama mengharamkan kodok dengan dalil hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy:


Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman Al-Quraisy, bahwa ada seorang tabib (dokter) yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka Rasulullah saw. melarang membunuhnya. (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i).

Berdasarkan hadits ini, para ulama mengharamkan kodok. Sebab dalam hadits tersebut, Rasulullah saw. melarang untuk membunuhnya. Sebuah kaidah mengatakan bahwa hewan-hewan yang dilarang untuk dibunuh, hukumnya haram dimakan. Seandainya boleh dimakan, niscaya Rasulullah tidak akan mengeluarkan larangan tersebut. Ada juga ulama yang mengharamkan kodok, karena bagi kebanyakan orang, kodok termasuk ke dalam katagori hewan yang menjijikkan. Ada pula yang mengharamkannya karena kodok termasuk binatang yang bisa hidup di dua alam.

Baca SelengkapnyaApakah Kodok Halal?

Search