Hukum Shalat Tahajud Tanpa Witir

1-

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustad, saya mau bertanya tentang hukum melaksanakan shalat Tahajjud tanpa melakukan shalat Witir sama sekali, baik itu di awal malam (selepas shalat Isya) maupun di akhir shalat Tahajjud, apakah sah shalat Tahajjud yang dilakukan tersebut? Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Y-….

 

2-

Assalammu'alaikum Wr. Wb.

Ustadz, saya ingin bertanya mengenai shalat Istikharah dan shalat Tahajjud. Bolehkah kita melakukan shalat Istikharah setelah Tahajjud? Jika kita melakukan shalat Witir setelah shalat Tahajjud, bolehkah disambung lagi dengan shalat Istikharah? Ataukah sebaiknya shalat Witirnya dilakukan setelah shalat Istikharah saja? Dan bolehkah shalat Istikharah dilakukan setiap hari?

Terima kasih, Ustadz. Mohon dijawab...

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

A-….

 

Jawaban:

 

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Untuk Saudari Y yang saya hormati, shalat Witir dan shalat Tahajjud merupakan dua shalat yang hukumnya sunah, artinya bila dilakukan akan mendatangkan pahala, tetapi bila ditinggalkan tidak apa-apa. Keduanya adalah dua ibadah yang terpisah, bisa dilakukan secara terpisah, dan tidak ada “keharusan” untuk dikerjakan dalam satu paket. Anda boleh saja melakukan Tahajjud tanpa Witir, dan demikian pula sebaliknya. 

Sama seperti pertanyaan yang disampaikan dalam konsultasi berjudul “Haruskah Witir Dilakukan Setelah Tahajjud?”, pertanyaan Anda sepertinya muncul karena adanya hadits yang mengisyaratkan bahwa shalat Witir adalah penutup shalat malam (termasuk Tahajjud). Dalam konsultasi tersebut, saya sudah menjelaskan bahwa ungkapan “Shalat Witir adalah penutup shalat malam” tidak sepenuhnya benar. Sebab, ketika dikatakan sebagai penutup shalat malam, maka hal ini akan menimbulkan kesan bahwa seseorang tidak boleh melakukan Witir setelah shalat Tarawih/Isya bila dia ingin melakukan shalat Tahajud di akhir malam, atau bila seseorang tidak menutup shalat Tahajud dengan Witir maka shalat Tahajudnya tidak sah. Atau dengan ungkapan yang lebih singkat, melakukan shalat Witir di akhir semua shalat malam (termasuk Tahajud) adalah sebuah keharusan. Istilah seperti itu muncul karena adanya sebuah Hadits yang berbunyi: “Jadikanlah Witir sebagai akhir shalat kalian di waktu malam" (HR. Bukhari)

Meskipun disampaikan dengan menggunakan kata perintah, namun hal itu bukanlah sebuah keharusan, namun hanya sebatas anjuran. Artinya, seseorang boleh saja melakukan shalat Witir di awal waktu malam setelah shalat Tarawih/Isya, boleh di tengah waktu malam, dan boleh juga di akhir waktu malam yaitu setelah shalat Tahajud. Hanya saja, akan lebih disukai ALLAH bila shalat Witir itu dikerjakan di akhir semua shalat malam. Hal ini ditunjukkan oleh Hadits Nabi saw. yang berbunyi: "Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah (disaksikan)(HR. Muslim) 

Baca Selengkapnya Hukum Shalat Tahajud Tanpa Witir

Penentuan 1 Ramadhan: Mana Yang Benar?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mungkin kita perlu mendapat penjelasan dari yang ahli tentang hukum-hukum agama. Insya Allah dalam beberapa hari lagi kita akan memasuki satu bulan yang dijanjikan Allah sebagai bulan yang penuh dengan ampunan dosa, ganjaran pahala yg berlipat ganda, dan lebih dari itu tentu masing-masing kita ingin menjadikan Ramadhan ini lebih baik dan lebih berkualitas dalam beribadah dibandingkan dengan tahun-tahun yang telah kita lalui.

Tetapi, selalu saja terjadi perbedaan antara sesama umat Islam tentang penentuan tanggal 1 Ramadhan yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menentukan 1 Syawal. Bahkan, terkadang perbedaan itu terjadi dalam satu kota yang sama koordinat bujur dan lintangnya. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi?

Terima kasih atas tanggapannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Gh-…..


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Di beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Indonesia, sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai penentuan 1 Ramadhan atau 1 Syawal. Munculnya perbedaan ini disebabkan karena dua hal:

1. Perbedaan pemahaman terhadap hadits Rasulullah saw. yang dijadikan sebagai dasar penentuan awal Ramadhan atau awal Syawal. Hadits tersebut berbunyi:



صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ أُغْمِيَ
عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ

Berpuasalah kalian karena melihat bulan, dan berbukalah (berhari rayalah) kalian karena melihatnya. Jika mendung telah menghalangi kalian, maka sempurnakanlah (genapkanlah) hitungan Sya’ban.(HR. Muslim)

Baca Selengkapnya Penentuan 1 Ramadhan: Mana Yang Benar?

Bolehkah Mukena Jadi Maskawin?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, ada temen ana ingin menikah, kemudian dia mendapatkan informasi dari salah satu website Islami bahwa mahar itu lebih baik emas jangan seperangkat alat shalat. Dia bertanya kepada ana bagaimana dengan keterangan itu? Ana belum menjawab pertanyaannya. Ustadz ana mohon bantuan, bagaimana ana menjawabnya menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Syukran ya Ustadz, jazakumullah khairan katsiran.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
J -……


Jawaban:
Walaikumussalam Wr. Wb.

Akhi, pertanyaan yang Anda lontarkan sangat menarik, karena permasalahan mahar ini sering kita lihat dan saksikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika ada saudara atau tetangga kita yang menikah. Mahar merupakan sesuatu yang wajib dibayarkan oleh seorang lelaki kepada wanita yang dinikahinya, sesuai dengan firman Allah swt.: “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (setubuhi) di antara mereka, berikanlah maharnya kepada mereka (dengan sempurna).” (Q.S. al-Nisa’ : 24)

Pertanyaannya, berapa kadar mahar atau jenis mahar seperti apa yang boleh dibayarkan seorang lelaki kepada wanita yang dinikahinya itu?

Sebelumnya, saya ingin mengatakan bahwa, mungkin statemen yang termaktub dalam website Islami yang Anda sebutkan, tidak mengandung maksud bahwa mahar berupa seperangkat alat shalat tidak dibolehkan. Tetapi mungkin maksudnya, kalau bisa jangan hanya seperangkat alat shalat, tetapi emas saja. Sebab, nilainya lebih tinggi dan sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sang isteri, terutama pada saat kondisi sulit. Jadi, saya husnuzh zhon, bahwa wesbite tersebut tidak ingin mengatakan bahwa dilihat dari segi hukum, seperangkat alat shalat tidak boleh dijadikan mahar dalam pernikahan.

Hal ini bukan tanpa alasan, karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ketika Umar bin Khathab menjabat sebagai khalifah, beliau membatasi mas kawin tidak boleh lebih dari 400 dirham. Tetapi ternyata tindakan ini ditentang oleh seorang wanita dengan menyebutkan firman Allah swt. : “Dan jika kamu ingin menggantikan isterimu dengan isteri yang lain (karena perceraian), sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (qinthaar), maka janganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikitpun“. (Q.S. al-Nisa’: 20)Kalimat “qinthaar” dalam ayat ini bermakna “harta dalam jumlah yang banyak, tanpa batas”. Seketika itu pula, Umar mengakui kekhilafannya atau kesalahannya seraya berkata: “Wanita itu benar, Umarlah yang salah”.

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada batasan maksimal untuk kadar mahar. Bila seseorang mampu, maka dia boleh memberikan mahar yang lebih daripada yang lain, tentunya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, tanpa ada unsur keterpaksaan.
 
Meskipun demikian, ini bukan berarti Islam melarang mahar yang tidak mahal alias ala kadarnya. Bahkan, Islam sendiri telah menganjurkan kaumnya untuk mempermudah permasalahan mahar ini. Jangan sampai gara-gara tidak ada mahar yang diinginkan, sepasang insan yang akan menikah tidak jadi melangsungkan pernikahan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: “Wanita yang paling banyak (diberikan) keberkahan adalah wanita yang paling sedikit maharnya.

Baca Selengkapnya Bolehkah Mukena Jadi Maskawin?