Cari Di Sini!

Konsultasi Keluarga
Mertua Campur Tangan, Isteri Gugat Cerai PDF Print E-mail
Konsultasi Keluarga
Wednesday, 20 July 2016 21:57

 

Assalamualaikum Wr. Wb.
Pak Ustadz, saya seorang laki-laki yang sedang menghadapi satu masalah. Saat saya bertengkar dengan isteri, mertua saya turut campur. Bahkan, sampai pada tahap dimana saya dan mertua saling menghina.

 

Saat ini, isteri saya tinggal bersama orangtuanya. Ketika saya ajak isteri untuk kembali ke rumah kami, terkadang dia mau dan terkadang menolak. Menurut penuturan isteri saya, dia tidak mau kembali ke rumah karena keluarganya mengancam tidak mau menerimanya lagi.

 

Belakangan, istri saya malah bilang mau gugat cerai. Saya sering membujuknya agar mau kembali, tapi tetap tidak berhasil. Saya sudah berusaha dengan segala upaya untuk memohon maaf kepada mertua, tapi selalu ditolak. Bagaimana jalan keluar dari masalah ini, Pak Ustadz? Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb. M-....

 

Jawaban:

 

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Saudaraku yang saya hormati, memang dengan dilakukannya ijab qabul, maka hak orangtua untuk mengatur dan mengendalikan anak perempuannya telah berpindah ke suami si anak. Dengan demikian, semestinya orangtua tidak boleh ikut campur dalam masalah rumah tangga anaknya.

 

Baca Juga: Rumah Tanggaku Pernah Berantakan Gara-gara Ibu Mertua

 

Tetapi perlu diingat, hal itu tidak bersifat muthlak, karena dalam kondisi tertentu seperti ketika terjadi perselisihan yang dapat mengakibatkan perceraian, orangtua berhak ikut campur, namun hanya sebatas menengahi dan harus menjadikan ishlah (perbaikan) sebagai orientasi utamanya. Allah swt. berfirman: "Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan (perceraian) antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. An-Nisa' [4]: 35)

 

Artinya, orangtua semestinya tidak boleh emosional dan langsung mengarahkan anaknya untuk bercerai. Mereka harus berusaha untuk mendamaikan terlebih dahulu, kecuali dalam kondisi tertentu dimana perceraian sudah menjadi solusi terbaik, tentunya setelah mempertimbang matang-matang sisi positif dan negatifnya tanpa didasarkan emosi sesaat.

 

Dalam konsultasi Anda, sayangnya Anda tidak menyebutkan penyebab perselisihan antara Anda dengan isteri, kesalahan apa yang Anda lakukan, sampai-sampai orangtua isteri Anda tidak mau memaafkan. Hal ini saya rasa penting guna menganalisa apakah arahan mertua Anda untuk bercerai dibenarkan atau tidak. Namun dari beberapa poin yang Anda sampaikan, seperti adanya kondisi saling menghina antara Anda dengan mertua, serta sikap mertua yang mengancam tidak akan mengakui isteri Anda sebagai bagian dari keluarga besarnya bila dia kembali kepada Anda, saya melihat bahwa sikap mertua Anda lebih dipengaruhi faktor emosional, bukan sikap bijaksana orangtua yang menginginkan hal terbaik untuk anaknya, seperti yang telah saya jelaskan di atas.

 

Baca Juga: Salahkah Bila Saya Menuntut Cerai

 

Saran saya, sebelum terlambat dan sebagai implementasi dari ayat di atas, sebaiknya Anda menunjuk seseorang yang dapat menjadi mediator (hakam/penengah) dalam masalah ini, lebih diutamakan orangtua Anda sendiri (bila masih ada), atau siapa saja yang Anda tuakan, bisa menjadi mediator dan lebih diutamakan orang yang dipandang oleh mertua Anda. Tujuannya, adalah untuk menemukan solusi terbaik, terutama bila Anda berdua sudah punya anak, maka solusi terbaik buat anak. Sampaikan kepadanya masalah Anda dan niatan Anda untuk kembali bersama. Sampaikan pula bahwa ishlah (perbaikan) sebagai prioritas utama Anda. Bila upaya ini berhasil, buatlah komitmen-komitmen baru dengan isteri Anda agar masalah serupa tidak terjadi lagi.

 

Demikian penjelasan saya, semoga bermanfaat. Wallaahu A'lam...Fatkhurozi

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 4 of 50