Cari Di Sini!

Konsultasi Keluarga
Ayah Tiri Jarang Shalat PDF Print E-mail
Konsultasi Keluarga
Monday, 04 July 2016 17:33

 

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Pak Ustadz, saya mau berkonsultasi. Ada 2 perkara yang mau saya konsultasikan:

Pertama, sekarang saya hidup bersama ibu kandung, ayah tiri, serta kakak tiri dan adik tiri. Ayah tiri dan adik tiri saya sangat jarang mengerjakan shalat wajib, bahkan shalat Jumat pun jarang sekali. Bagaimana cara saya menyikapinya? Sebab, saya sangat sedih melihat ibu menikah dengan ayah tiri yang seperti itu. Padahal saya sudah sering mengingatkan dan mencontohkan dengan perbuatan. Tapi mereka masih saja begitu.

 

Kedua, ibu kandung dan ayah tiri saya sekarang sering menggunakan kartu kredit, menyimpan tabungan di bank konvensional, mengkredit mobil/motor dimana semua itu terdapat riba di dalamnya. Saya sudah pernah mengingatkan ibu kandung dan ayah tiri saya, bahkan pernah juga mereka berdua mendengarkan tausiah tentang riba. Tapi mereka masih saja melakukannya. Sebagai anak, saya khawatir karena orang tua saya telah membiayai saya dengan uang yang tercampur riba didalamnya. Saya juga bingung harus bagaimana karena ini urusannya dengan orang tua. Bagaimana ya, Pak Ustadz? Apakah saya termasuk org yang ikut memakan riba tersebut? Apa yang harus saya lakukan, sementara saya masih pelajar yg blm punya penghasilan sendiri? Terimakasih, Pak Ustadz. Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya, Aamiin Yaa Allah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

D-


Jawaban:

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Adikku yang tercinta, sebelum memberikan jawaban, saya ingin menyampaikan kekaguman saya kepada Anda. Di usia yang masih sangat belia, Anda sudah memiliki kesadaran yang cukup tinggi, dimana kesadaran itu sudah berkembang menjadi keprihatinan terhadap apa yang ada di sekitar Anda. Setidaknya ada 2 alasan utama yang menyebabkan kekaguman saya:

 

Pertama: Di tengah keprihatinan saya terhadap kondisi remaja dan pemuda sekarang ini yang masih sangat akrab dengan hal-hal negatif seperti hura-hura, pergaulan bebas, tawuran, jauh dari ibadah, dll., Anda membangkitkan optimisme saya bahwa masih ada remaja yang juga akrab dengan hal-hal positif. Mudah-mudahan makin banyak remaja atau pemuda seperti Anda, karena generasi muda sekarang adalah tumpuan masa depan bangsa di masa mendatang. Kalau generasi mudanya ngacau, maka hampir bisa dipastikan masa depan bangsa juga akan kacau, demikian pula sebaliknya.

 

Kedua: Di tengah keprihatinan saya terhadap pola pikir materialistis dan individualistis di tengah masyarakat kita yang menyebabkan menurunnya kepedulian masyarakat terhadap terjadinya perubahan, apalagi perubahan ke arah yang lebih Islami, sekali lagi Anda juga membangkitkan optimisme saya bahwa masih ada orang-orang yang memiliki komitmen tinggi untuk menopang terjadinya perubahan itu. Anda memiliki keprihatinan dan kekhawatiran terhadap dosa "riba" yang sudah sangat memasyarakat di kalangan umat Islam. Saya katakan seperti ini karena terus terang, walaupun gaung perbankan syariah sudah semakin marak, namun ternyata hal itu tidak menjamin semakin tingginya komitmen untuk menjauhkan diri dari praktek riba. Bahkan, tidak sedikit pakar dan orang-orang yang sering menggaungkan ekonomi syariah (termasuk di dalamnya perbankan syariah), namun dalam praktek kesehariannya masih sangat akrab dengan perbankan konvensional. Semuanya masih serba kredit, mobil dan rumahnya pun kredit, bahkan dompetnya masih penuh dengan kartu kredit. Mudah-mudahan komitmen Anda itu masih tetap dipertahankan hingga kapanpun, termasuk ketika Anda sudah mandiri nanti.

 

Baca juga: Batasan Berbakti Kepada Orangtua

 

Mengenai pertanyaan yang Anda lontarkan, saya hanya ingin menekankan satu hal, yaitu bahwa dalam berdakwah dibutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Kesungguhan dalam artian, kita dituntut berupaya semaksimal mungkin dan berupaya untuk mencari berbagai alternatif cara. Dalam kasus yang Anda hadapi, akan lebih baik bila Anda sering menyampaikan masalah ini kepada ibu kandung Anda, termasuk masalah ayah dan saudara tiri Anda yang jarang shalat. Mudah-mudahan ibu Anda akan terbuka hatinya, sehingga pelan-pelan dia juga akan menyampaikannya kepada suami dan anak tirinya. Tentunya semua itu harus disampaikan dengan bahasa "cinta" dan penuh kehangatan. Anda juga dituntut untuk berusaha dengan penuh kesabaran meskipun upaya yang Anda lakukan selama ini dirasa belum membuahkan hasil. Yakinlah bahwa ALLAH tidak menuntut hasil, karena soal hasil urusan ALLAH, sebagaimana disinyalir dalam firman-Nya: "Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu sayangi, tetapi ALLAH memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya." (QS. Al-Qashash [28]: 56) Karena itu, selain berusaha untuk terus mengingatkan dan memberi contoh, jangan lupa untuk terus berdoa kepada Dzat Yang Maha Kuasa dan Mampu Membolak-balikkan hati manusia. Doakan agar mereka semua (termasuk ibu Anda) senantiasa diberi hidayah (dibimbing) oleh ALLAH swt..

 

Mengenai masalah Anda yang kedua, saran saya terus pertahankan komitmen Anda untuk mencintai hal-hal yang sesuai ketentuan syariah, termasuk dalam soal muamalah (berhubungan dengan keuangan), walaupun untuk saat ini kita masih belum bisa terhindar 100% dari ketergantungan terhadap hal-hal yang berbau ribawi, apalagi dalam posisi Anda sebagai anak yang masih sangat tergantung pada orangtua. Namun yang terpenting dan jangan sampai lepas dari diri Anda adalah adanya komitmen untuk meninggalkan semaksimal mungkin hal-hal tersebut dan untuk juga mempengaruhi orang-orang di sekitar Anda, terutama orang-orang yang Anda cintai.

 

Baca juga: Curhat Seorang Kakak Tentang Adiknya Yang Durhaka

Ringkasnya, ada 4 T yang harus Anda lakukan:
1. Teruslah berkomitmen
2. Teruslah berusaha untuk menasehati
3. Teruslah berdoa
4. Tawakkal dan pasrahkan hasilnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa.

Demikian yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat, Aamiin.
Wallaahu A'lam...Fatkhurozi

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 6 of 50