Cari Di Sini!

Konsultasi Keluarga
Mana Yang Harus Didahulukan: Ibu Atau Suami? PDF Print E-mail
Konsultasi Keluarga

 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Ustad saya mau bertanya, saya sudah menikah sekitar 1 tahun dan sekaranq sedang hamil 9 bulan. Sekaranq ibu saya sedang sakit dan meminta saya untuk menjenguknya tetapi saya dilarang oleh suami karena kondisi perut saya yang sudah besar dan kondisi kandungan yang lemah. Lalu ibu saya marah karena saya dianggap tidak menuruti keinginannya. Ibu saya bilang kalau suatu hari nanti saya akan dapat karma karena tidak menuruti perintahnya. Ibu saya juga mengatakan bahwa rumah tangga saya belum tentu panjang karena saya terlalu mnuruti perintah suami.

 

Yang ingin saya tanyakan, apakah saya termasuk anak yang durhaka karena tidak menuruti perintah ibu saya, Ustadz? Dan apakah saya akan terkena karma? Terimakasih atas jawabannya, Ustad.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
S-


Jawaban:

Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

Saudariku yang saya hormati, permasalahan yang Anda hadapi merupakan dilema yang sering dihadapi banyak pasangan, terutama bagi rumah tangga yang di dalamnya belum terjalin komunikasi yang baik dan belum terbina saling pengertian, baik antara suami dengan istri maupun antara mereka dengan orangtua. Dilema, karena baik suami ataupun orangtua (ibu) memiliki hak yang sangat ditekankan oleh Islam untuk dipenuhi. Sebagaimana kita ketahui, Islam sangat memerintahkan kepada kita untuk berbakti kepada orangtua. Di sisi lain, Islam juga memerintahkan kepada istri untuk senantiasa patuh dan taat kepada perintah suami. Tidak sedikit ayat atau hadits yang mengisyaratkan dan menekankan kedua hal itu. Untuk lebih mempersingkat jawaban, saya kira di sini saya tidak perlu menyebutkan secara detail ayat-ayat atau hadits-hadits tersebut.

 

Walaupun secara umum, hak-hak suami harus lebih didahulukan daripada hak-hak orangtua, namun kondisi yang paling ideal adalah kondisi dimana hak-hak keduanya bisa dipenuhi semua tanpa ada persinggungan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Namun sayangnya seringkali kedua belah pihak, suami dan ibu, memiliki keinginan yang berbeda dan masing-masing bersikukuh pada pendiriannya, tanpa ada yang mau mengalah.

 

Dalam kondisi seperti itu, idealnya memang harus ada pihak yang mau mengerti dan mengalah, terutama bila ada alasan logis yang menyebabkan keinginannya tidak terpenuhi. Dalam kasus Anda, semestinya ibu mengalah dan tidak perlu mendoakan hal buruk untuk Anda dan suami. Atau kalau memang memungkinkankan dan ada alternatif solusi yang bisa diupayakan suami untuk meminimalisir resiko yang dikhawatirkan (terkait kehamilan / kandungan Anda), bisa saja suami Anda mengalah dan mengizinkan Anda untuk menjenguk ibu.

 

Untuk mewujudkan hal itu, cobalah membangun komunikasi yang baik dengan salah satunya, ibu atau suami. Dengan ibu, misalkan, Anda dapat menjelaskan masalah yang sesungguhnya dengan logis. Jangan lupa untuk meminta maaf dan menggunakan bahasa yang penuh kelembutan. Dengan suami, Anda juga dapat memusyawarahkan alternatif solusi. Namun sebisa mungkin, hindari emosi.

 

Bila semua upaya komunikasi tersebut sudah Anda lakukan tapi hasilnya tetap sama, secara hukum Islam, perintah suami Anda lebih berhak untuk didahulukan. Tetapi dengan catatan alasan yang disampaikan bukanlah alasan yang dibuat-buat dan sama sekali bukan didasarkan ego-nya. Sebab prinsip utama dalam hal ini, baik terkait ketaatan kepada ibu ataupun suami, adalah tidak boleh menaati keduanya dalam hal yang mengandung unsur kemaksiatan atau pelanggaran terhadap aturan ALLAH swt., sebagaimana disinyalir dalam hadits Nabi saw.: "Tidak diperkenankan (bagi kita) untuk taat kepada makhluk (siapapun dia) dalam melakukan kemaksiatan kepada Khaliq (ALLAH)." (HR. Ahmad)

 

Bila memang terpaksa harus seperti itu, maka berusahalah untuk membangun kembali komunikasi yang baik dengan ibu Anda setelah kondisi memungkinkan. Datangilah sang ibu dan memintalah maaf kepadanya atas apa yang terjadi sebelumnya. Mudah-mudahan ibu Anda termasuk orang-orang yang dibukakan hatinya untuk mudah memaafkan orang lain, apalagi terhadap anaknya sendiri.

 

Adapun mengenai karma yang Anda tanyakan, Anda tidak perlu khawatir. Insya ALLAH tidak akan terjadi apa-apa selama Anda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan ketentuan-ketentuan ALLAH, yaitu dengan berusaha untuk memenuhi hak-hak keduanya (suami dan ibu) dengan baik,  seperti yang telah saya jelaskan di atas. Wallaahu A'lam...Fatkhurozi

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 7 of 50