Cari Di Sini!

Kedudukan Wanita Dalam Islam PDF Print E-mail
Konsultasi Umum (Fiqh)

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, bagaimana kedudukan seorang wanita dalam Islam? Kenapa wanita tidak boleh lebih tinggi atau sama kedudukannya dengan laki-laki? Mohon penjelasannya. Terima kasih…

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

S - …….


Jawaban:

 

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Berbicara mengenai kedudukan wanita dalam Islam, memang tidak sedikit orang yang memandang miring Islam. Hal itu terjadi karena cara berfikir mereka sudah diracuni oleh pikiran-pikiran orientalis yang materialis. Mereka menganggap Islam telah merendahkan martabat wanita. Mereka berpendapat seperti itu karena mereka melihat Islam hanya dari satu sisi saja. Yang dilihat oleh mereka hanya anjuran Islam agar wanita lebih baik berada di rumah saja, wanita harus memakai jilbab, wanita harus melayani suami, kesaksian dua orang wanita sama dengan kesaksian satu laki-laki, hak waris wanita separuh dari hak laki-laki, serta hal-hal lain yang dipandang miring oleh mereka. Atau dengan kata lain, Islam tidak memberikan hak-hak yang sama antara wanita dengan laki-laki dalam semua bidang kehidupan.

 

Menurut saya, itu pandangan yang sangat materialistis. Karena untuk menghormati dan menghargai wanita tidak harus diwujudkan dalam bentuk kesamaan hak dalam segala hal. Kesamaan hak dalam segala hal justru akan merendahkan martabat wanita dan bertentangan dengan tabiat wanita itu sendiri. Sebagai contoh, kalau semua wanita pada zaman sekarang ini bekerja di luar rumah, seperti laki-laki, maka siapa yang akan mengurus dan memperhatikan anak-anak di rumah? Apakah kita rela anak-anak kita dididik oleh pembantu atau baby sister, yang notabene pendidikannya lebih rendah daripada kita? Apa jadinya anak-anak kita bila hal itu terjadi? Fenomena yang kita lihat sekarang ini, sudah mengarah ke sana. Sehingga tidak heran, bila kasus narkoba di kalangan remaja semakin tinggi. Demikian pula dengan kasus perkelahian siswa atau -bahkan- mahasiswa.

 

Baca juga: Haruskah Wanita Pakai Gamis?

 

Padahal, kalau kita kembali ke ajaran Islam itu sendiri, anak yang shaleh dan berbakti adalah mutiara yang sangat berharga. Tidak bisa dibayar dengan uang, berapapun nominalnya. Dalam hal ini, kaum wanita justru sangat diuntungkan. Sebab dalam Islam, kedudukan ibu lebih tinggi daripada ayah. Dalam sebuah hadits disebutkan, ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah saw. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, “Ayahmu.(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Di sini, Nabi menyebut kata “ibu” hingga tiga kali. Sementara kata “ayah” hanya satu kali. Subhanallaah!! Sungguh mulianya seorang ibu! Sungguh mulianya seorang wanita di mata Islam!! Kalau saya boleh bertanya kepada kaum wanita, mana yang lebih Anda pilih: anak-anak yang durhaka ataukah anak-anak shaleh yang akan menghormati ibu-ibu mereka dengan penghormatan yang lebih daripada penghormatan mereka kepada kaum ayah-ayah mereka?

 

Islam sangat menghormati hak-hak wanita, tapi itu tidak berarti harus ada kesamaan hak dalam segala bidang. Ada bidang-bidang tertentu yang memang tidak sama. Dalam hal ibadah, hak wanita sama dengan laki-laki, seperti difirmankan Allah: “Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. An-Nahl: 97) Demikian pula dalam hak-hak yang lain, seperti hak pendidikan, hak mendapatkan perlakuan yang baik, dan lain sebagainya.

 

Andaikata ada hak-hak yang tidak sama, itu bukan berarti Islam tidak menghormati wanita. Menurut saya, ada hikmah yang besar di balik ketentuan seperti itu, yaitu hikmah yang hanya dapat diketahui secara pasti oleh Dzat yang telah menciptakan alam semesta ini, termasuk manusia -laki-laki dan perempuan-, dan Dzat yang telah membuat aturan-aturan seperti itu. Wallaahu A’lam…Fatkhurozi


Baca juga: Hukum Mengganti Puasa Bagi Wanita Hamil & Menyusui