Cari Di Sini!

Hukum Memilih Pemimpin Non-Muslim PDF Print E-mail
Konsultasi Umum (Fiqh)
Friday, 06 May 2016 19:35

 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Ustadz, saya mau tanya tentang hukum memilih pemimpin non-Muslim. Apakah seorang Muslim dibenarkan untuk memilih pemimpin non-Muslim? Pertanyaan ini saya lontarkan karena terus terang saya bingung, ada sebagian orang yang membolehkan dengan menggunakan logika bahwa pemimpin non-Muslim tapi jujur dan adil itu lebih baik daripada pemimpin yang Muslim tapi korup? Sementara yang saya tahu dari ustadz-ustadz saya dulu, Al-Qur'an telah melarang kita untuk menjadikan orang non-Muslim sebagai pemimpin kita. Bagaimana sih sebenarnya Al-Qur'an berbicara mengenai hal itu, Ustadz? Terima kasih sebelumnya.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
U -...

Jawaban:

Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

Saudaraku yang saya hormati, dalam menjawab pertanyaan Saudara, ada 2 hal penting yang mungkin perlu saya tekankan di sini:

 

Pertama: Dalam mengungkapkan satu persoalan atau hukum, seringkali Al-Qur'an tidak menyampaikannya dalam satu surat atau dalam beberapa ayat yang letaknya berurutan, tetapi dalam beberapa ayat yang tersebar di berbagai surat. Oleh karenanya, kita perlu menghubungkan satu ayat dengan ayat lain yang sejenis sehingga kita dapat memperoleh satu pemahaman yang lebih komprehensif.

 

Berkaitan dengan persoalan yang Anda tanyakan, bila kita perhatikan Al-Qur'an, maka setidaknya ada tiga kelompok ayat seputar sikap seorang Muslim terhadap non-Muslim.

  1. Ayat-ayat yang mengandung perintah untuk berbuat baik dan bersikap adil terhadap non-Muslim, seperti pada firman ALLAH swt.: "ALLAH tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya ALLAH menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya ALLAH hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Mumtahanah: 8-9) Inilah prinsip utama agama Islam yang harus kita pegang, dimana Islam -sebagai agama yang rahmatan lil-'alamin- memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berbuat baik dan bersikap adil kepada siapapun, termasuk kepada non-Muslim. Bahkan seperti yang dicontohkan Baginda Nabi saw., sikap kita terhadap mereka harus lebih baik daripada sikap mereka terhadap kita. Jangankan terhadap sesama manusia, terhadap binatang sekalipun, Islam mengajarkan etika yang luar biasa. Namun perlu diingat, perintah ALLAH dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8 tersebut tidak bersifat muthlak. Ada batasan-batasan tertentu yang tetap harus kita jaga, seperti ditegaskan pada ayat berikutnya (QS. Al-Mumtahanah: 9) dan juga pada ayat-ayat lainnya.
  2.  

  3. Ayat-ayat yang menekankan aspek kewaspadaan umat Islam terhadap berbagai potensi dan upaya yang bisa membahayakan eksistensi dan merugikan kepentingan mereka. Ada beberapa ayat yang -menurut saya- masuk ke dalam katagori ini, di antaranya adalah firman ALLAH dalam QS. Al-Baqarah: 120: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti agama mereka." Menurut saya, ayat-ayat yang sering dijadikan dasar hukum bagi larangan untuk memilih pemimpin non-Muslim (Lihat QS. Ali 'Imran: 28, QS. Al-Ma'idah: 51, QS. Al-Ma'idah: 57, At-Taubah: 23, QS. Al-Mumtahanah: 1, QS. An-Nisa': 89, QS. An-Nisa': 139, QS. An-Nisa': 144 dan QS. Al-Ma'idah: 81), juga masuk ke dalam katagori ini. Ibaratnya, sebagai salah satu wujud kehati-hatian itu, Al-Qur'an pun menekankan agar masalah kepemimpinan tidak diserahkan kepada non-Muslim. Hal ini sangat logis dan manusiawi! Taruhlah si X yang non-Muslim, di samping terkenal jujur dan bersih sehingga berhasil menjadi pemimpin di satu daerah/negara yang penduduknya mayoritas Muslim, dia juga tidak memiliki kebencian terhadap Islam dan tidak memiliki niatan untuk menghancurkan eksistensi umat Islam. Namun pertanyaan yang harus tetap kita camkan, apakah dia juga "amanah" untuk umat Islam? Apakah kebijakan-kebijakannya akan berpihak terhadap kepentingan-kepentingan umat Islam atau justru akan merugikan mereka?
  4.  

  5. Ayat-ayat tentang jihad, jihad dalam pengertian yang sesungguhnya, bukan jihad dalam pengertian majazi / kiasan dimana jihad seringkali didistorsikan dan difahami oleh sebagian kalangan sebagai ijtihad, padahal keduanya sangatlah berbeda. Bukan pula jihad dalam pengertian yang sangat ekstrim, tanpa ada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan. Setidaknya, lebih dari 30-an ayat yang berbicara mengenai jihad.

Dengan adanya kenyataan seperti itu, maka sebagai Muslim, kita dituntut untuk bersikap proporsional pada ketiga poin tersebut. Tidak mungkin kita menghilangkan atau mendistorsi salah satu poin demi mengedepankan poin yang lain. Tidak mungkin pula, kita mengambil dan melakukan poin ketiga, sementara situasi, kondisi dan syarat-syarat poin tersebut belum terpenuhi, dermikian pula sebaliknya.

 

Sikap proporsional yang saya maksud adalah menjadikan poin pertama sebagai prinsip utama, poin kedua sebagai sikap kehati-hatian atau kewaspadaan yang harus senantiasa kita lakukan, dan poin ketiga sebagai pintu terakhir atau emergency exit ketika pintu diplomasi dan perdamaian sudah mengalami kebuntuan.

Kedua: Akhir-akhir ini saya merasa terusik dengan slogan yang cukup sering digembar-gemborkan: "Lebih baik pemimpin non-Muslim tapi jujur dan adil daripada pemimpin Muslim tapi korup". Terusik, karena terus terang kalau disuruh milih mana yang terbaik, tentunya saya dan -mudah-mudahan- Anda semua menginginkan pemimpin Muslim yang jujur, adil, amanah dan tidak korup. Kenapa justru slogan itu yang muncul? Apakah sudah tidak ada lagi pemimpin Muslim yang jujur dan adil? Andaikata benar jawabannya seperti itu sehingga hanya ada dua pilihan seperti yang terkandung pada slogan tersebut, maka berarti kita sedang dihadapkan pada satu kondisi yang sangat memprihatinkan dimana kita dituntut untuk memilih mana yang mudharat / dampak negatifnya lebih ringan, seperti disebutkan dalam kaidah Ushul Fikih:

ارتكاب أخف الضرورين

"Memilih mana yang lebih ringan mudharatnya." Tentunya, ini tamparan bagi kita umat Islam yang sampai saat ini masih menjadi kaum mayoritas di negeri tercinta ini.


Bila dikaitkan dengan kepentingan umat Islam, tentunya pemimpin Muslim lebih ringan dampaknya daripada pemimpin non-Muslim. Demikian jawaban yang bisa saya berikan, Saudaraku. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua. Wallaahu A'lam...Fatkhurozi